jejak langkah

Selasa, 06 Maret 2012

DUNIA BARU YANG BIRU

Tepat seminggu sudah Faris dalam penantian. Sebenarnya Faris berusaha untuk tidak menanti pengumuman itu. Ia sengaja menyibukkan diri dengan banyak belajar. Lagipula SPMB sebentar lagi tiba. Soal maematika yang penuh misteri selu saja menarik perhatiannya. Itu sih hoby. Setelah itu pelajaran bahasa Inggris yang menjadi menu favorit dalam setiap episode belajarnya. Pelajaran selebihnya, ia nikmati semampunya. Dan hal itu cukup membuat Faris tidak terlalu merasakan penantian itu. Pagi ini adalah pengumuman hasil seleksi penyiar yang diterima di Jivo FM.Faris sudah mandi, berganti pakaian dan dan menyisir rapi rambut ikal berombaknya ( laut kali ya,...he...hehe). Seperti biasa motor cepernya sudah siap digarasi. Bensin full, mesin OK, helm siap. Semua sudah aman dan terkendali. Hari ini ada try out SPMB disekolahnya. Mulai jam 8 pagi. Setelah itu ada janjian acara sama Pandu. Kemungkinan sampai sore. Berarti Faris punya kesempatan melihat pengumuman itu dalam waktu setengah jam. Jam 7 sampai jam 7.30. Faris segera melarikan motornya dengan kencang. Jalanan pagi yag selalu padat dengan kendaraan yang pergi kekantor dan kesekolah, tidak menjadikan halangan bagi Faris untuk melajukan motornya dengan kecang. Dalam hitungan tidak lebih dari 30 menit Faris sudah sampai di Jivo FM. Ternyata bukan hanya dia yang melihat pengumuman di pagi buta. Rata-rata peserta lain pun tak sabar untuk melihat pengumuman itu lebih lama lagi. Mugkin juga karena mereka anak sekolah SMU. Hari itukan baru hari Senin. Sekolah biasa lebih cepat masuk. Wiwied teman barunya yang ia kenal saat seleksi tahap dua sudah berdiri dekat papan pengumuman didepan bangunan studio Jivo yang mungil. ”Gimana Wied?”tanya Faris sambil menepuk bahu Wiwied yang sedang serius mengamati nomor urut peserta seleksi yan tertera dipapan pengumuman. Wiwied yang sedang serius terperanjat agak kaget dengan kedatangan Faris yang tiba-tiba menepuknya. ”Astaga naga!” pekiknya. dia segera membalikkan badan kearah suara.”Ris, kamu sudah lihat belum pengumumannya?”tanya Wiwied seraya menatap Faris. Faris segera mnggelengkan kepala. ”Belum Wied. Coba aku lihat, tolong dong kamu geser dikit. Kamu udah lihat kan hasilnya?” Faris balik bertaya kepada Wiwied.yang ditanya tersenyum penuh arti. Faris tahu itu senyum penuh kegembiraan. Dan Faris memang tidak salah. Wiwied segera mengangguk sebagai tanda jawaban ’iya’. ”Alhamdulillah aku diterima. Aku juga tidak menyangka.kamu tahu sendiri kan saingannya bagaimana? Tapi aku yakin Ris, kamu juga pasti masuk.soalnya aku dapat soalnya aku dapat bocoran dari mas indro, dari syarat akademis kau mendapat point paling tinggi.padahal itu syarat utama selain pinter cuap-cuap.acara yang kita Pandu nanti itu kan acara science.keilmuan ris.so dibutuhksn penyiar yang tidak Cuma bisa cuap bin ember doank. Tapi lebih dari itu,cerdas kayak kamu, todong wiwid memuji. Yang dipuji perasaannya jadi berwarna warni.bingung harus bangga atau malu. Hi hi.. abis kalau ’nuduh’ tidak kira-0kira. Kalau dibilang cerdas sih, tidak juga. Buktinya selama tiga tahun sekolah diSMU, Faris tidak pernah juara satu.walau tidak pernah pula keluar dari lima besar. Tapi kalu soal matematika dan bahasa inggris Faris emang doyan. ”ah jangan gitu wid, aku tidak sehebat yang kamu bayangkan,.aku biasa saja kok.eh ngomong-ngimng mas indro itu siapa? Kok kamu bisa kenal dia?orang dalem nih? ”selidik Faris. Matanya menatap penuh tanda tanya. Wiwid terdiam sejenak. Sepertinya ia menangkap kecurigaan Faris. ”mas indro itu teman kakakku,. Dia juga yang memberi tahuku kalau ada seleksi penyiar pelajar di Jivo FM. Dia meang direktur produksi diradio Jivo.dia juga sering jadi operator.radio Jivo kan belumvtrlalau besar, jadi karyawannya masih sedikit. Dia cukup berpengaruh di Jivo. Tapi...emmm kamu curiga sama aku ya?aku tidak KKN kok. Yakin!dia tidask masuk tom seleksi.lagipula dia tidak suka kerja yang tidak profesional. Asal comot tanpa kemampuan. Tidak bakal ditolerir.”jelas wiwid tanpa diminta.Faris manggut-manggut. ”sekarang cepetan kamu lihat pengumumannya.aku segerra cabut. Mau ada kegiatan disekolah.cabut duluan ya!”wiwid mengingatkan sekaligus pamit. Setelah berjabat tangan, wiwid segera bergegas meninggalkan Faris yang menatapnya melaju dengan motornya. Faris segera mengalihkan pandangan matanya pada papan pengumuman yang masih dikerubuti sekitar belasan anak SMU yang penasaran melihat hasil seleksi kemarin. Faris mengayunkan kaki beberapa langkah.tubuhnya yang kecil mungil mewajibkannya melihat pengumuman itu lebih dekat. Setelah berhasil menerobos beberapa tubuh yang menghalanginya dari pa[an pengumuman, akhirnya Faris sampai didepan kertas pengumuman itu. Dilihatnya satu persatu nomor yang tertera dipengumuman itu. Dari atas kebawah. Satu kali Faris belum menemukan nomor urut dirinya tertera disana. Faris masih penasaran.sekali lagi ia mengamati pengumuman itu. Tidak ada nomor dirinya. Mendadak Faris lemas. Wajah cerianya menguap seketika. Ada rasakecewa yang dalam, tapi harus bagaimana?dengan agak lunglai , Faris meninggalkan kerumunan yang sekarang telah menyusut mejadi beberapa orang saja. Dengan ekspresi yang bermacam-macam. Sedihgembira. Tapi ada juga yang biasa-niasa saja. Motor Faris segera meninggalkan area pakir Jivo FM. Menuju sekolah. Waktu menunjukkan pukul 8.15. Faris tyerlambat. Tapi ia hampir tak peduli,. (kecewa ni yee...komentar semut-semut hitam yang berbaris didinding...he..he..) Soal try out sudah dibagikan setengah jam yang lalu. Faris baru saja tiba didepan ke;las,. Ia segera mengetuk pintu. Ibu yeti yang membukakan pintu. Tak sedikitpun pemandangan manis tersisa diwajah ibu guru bahasa indonesia itu. Faris tak peduli. Setelah sekian jam berlalu. Saatnya semua mengahiripergulatan masing-asing dengan soal latihan SPMB itu.Faris yang masih tidak konsen masih menyisakan bebrapa soal yang seharusnya ia jawab. Tapi apa boleh buat , waktu telah habis. Anak-anak kelas 3 IPA 1 masih ribut membicarakan soal-soal yang tadi. Beberapa nak berkelompok, bergerombol mendiskusikan jawaban soal –soal itu. Faris yang biasanya bersemangat kini terdiam. Tentu itu mengundang tanya teman-temannya. Khusus nya Pandu, teman sebangkunya yang sedari tadi terpaksa menikmai wajah asem Faris dari awal jumpa. ”ris,kamu kenapa? Kesambet jin poho asem ya? Bawaannya diem aja dari tadi. Atau....kaamu lagi sakit gigi? ”Pandu bertanya Faris hany menggeleng lemah. ”mmmm....sakit?” tanya Pandu lagi.jawaban Faris masih sama.gelengan kepala. ”tapi kenapa dari tadi wajahmu layu begitu.kayak bunga kurang siram saja. Tidak biasanya!ada masalah apa, sih? ”sekali lagi Pandu bertanya.yang ditanya kali ini belum memberi jawaban. Faris masih diam.sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin memikirkan jawaban yang tepat. Pandu masih setai menuggu. ”hmmm sebenarnya sih tidak apa-apa. Maksudku, mungkin seharunya masalah ini tidak harus mengganggu pikiranku.tapi entah kenapa, ada perasaan kurang enak, dalam hatiku. Ya semacam kecewa berat. ”jelas Faris akhirnya. Tapi yang mendengar penjelasan itu masih juga belum paham maksud Faris. ”sebentar, kecewa yang mana dan masalah apa? ”cecar Pandu tidak sabaran. ”kamu tahu kan, akuikut seleksi penyiar pelajar beberapa hari yang lau? Taerus terang aku sangat berharap sekali bisa lolos. Apalagi, aku mendapat informasi bahwa hasil seleksiku cukup meyakinkan hasilya. Ceritanya aku dapat sedikit bocoran dari seorang kenalan yang sama-sama ikut seleksi penyiar. Dia kenal orang dalam, katanya hasil tesku meyakinkan. Yah...terus terang saat dengar kabar itu aku sangat optimis, akan masuk jadi penyiar. Aku sendiri yakin kok tesku memang tidak mengecewakan. Aku sudah bersiap-siap dengan segala kesungguhanku. Tapi ternyata namaku tidak tertera dipapa pengumuman itu. Terus terang kondisiku sedang tidak siap menerima kekalahan, jelas Faris, loyo. ”nah saat ini aku lagi lemes. Aku sedang brjuang untuk ikhlas dengan kenyataan ini. Kalau aku diem terus, ya namanya juga dapat kekecwaan. Aku lagi butuh tausiyah ni.” ”ya ampun nih, pak ketua kita. Apa kamu tidak ingat ris apa tujuan mua ikut seleksi penyiar itu? Just for dakwah.only for Alloh. Kalu Alloh belum menghendaki, kenapa harus dongkol bin kecewa. Inget-inget lagi tuh surat albaqoroh ayat 112: barangsiapa yang menyerahkan diri kjepda Alloh, sedang ia berbuat kebajikan , maka baginya pahala pada sisi tuhanNya. Dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Sekarang ini baru permulaan. Kamu baru memulai. Jadi ni bukan akhir dari segalanya. Kalau kamu niat banget berdakwah dibidang itu, ya kuncinya tidak ceopat menyerah. Begitu menurutku. So, jangan keburu lemes gitu. Boleh kecewa, tapi jangan lama-lama. Soalnya aku seperti liaht kamu cemberut terus. Jeleknya sepuluh kali lipat lebih jelek dari jelek sebelumnya. ...he...he...he...!ketawa dong, ris!” ”aku sedih, bukan lemes. Tapi kecewa. Soalnya, menurut feelingku ada kecurangan tertentu! Aku lihat pada prosedur pada beberapa peserta. Ada peserta yang aku tahu dia sangat tidak meyakinkan tapi malah masuk lolos jadi penyiar. Aku athu persis orangnya. KKN selalu terjadi dimana-mana. Itu yang membuatku kecewa. ! ”wah, ris...!belum-belum kamu sudah suudzon. Kamu tahu darimana kalau peserta itu KKN. Sudah jangan karena kamu tidak lolos seleksi, malah bikin kamu berprasngaka buruk bukannya nambah pahala, tapi nambah dosa. Yang penting sekarang, kamu persiapkan langkah untk selanjutnya. Tidak ulus jadi epnyiar JIVO FM kan bukan kiamat buat kamu. Sekarang radio banyak dijhogja. Kamu tinggal cari kesempatan lain. Dan jangan lupa mempersiapkan diri lebih matang.” ”iya, sih” ujar Faris singkat. Pandu masih berbusa-busa berbicara mengeluarkan petuah untuk Faris hingga mereka tiba diparkiran sekolah. Setela itu, baru mereka berpisah.pulang dengan kendaraan masuing-masing. Dalam hati Faris bersyukur, punya teman seperti Pandu. Walu kadang rada over dosis, tausiyahnya cukup berguna. Kalupun tadi Faris sok cuek, itu sih biar Pandu idak banyak-bajnyak ngasih ceramahnya. Soalnya Faris bisa ngantuk. He..he..he..

MEMILIH BINTANG

Eva sedang dihalaman rumah, kepalanya tengadah memperhatikan jutaan bintangyang bertaburan dilangit malam. ”Eva sudah mlm,. Kemarin kamu baru masuk angin,.cepat masuk nak1”tegur Ummi lembut.yang ditegur masih asyik memperhatikan bintang. ”bentar mi,kata temen Eva dan koran-koran malam ini bulannya akan muncul dua,” ujar Eva dengan penuh keyakinan. ”Eva lagi mencari bulan yang satunya lagi mi,kok tidak ada yah?” ”Eva keheranan sendiri.”kata temen Eva bulannya sebesar bola tenis.warnanya merah.” Ummi geleng-geleng kepala.” bukan bulan itu,tapi planet mars.warnanya merah dan kalau dilihat pakai mata telanjang memang tidak terlihat, terang Ummi. “iya, maksudnya Eva yang itu mi. Eh mi,emang mata ada yang pake baju ya?kok ada mata telanjang segala?” entah Eva lagi iseng atau emang tulalit,. Eva bertanya pada Ummi dan Ummi cuma tersenyum. Faris baru saja keluar dari kamar. Habis menyelesaikan soal-soal matematika SPMB membuat punggungnya pegal.tiba diluar dia langsung ikut nimbrung.” wah yang ngaku anak gaulkok kurang gaul sih?.makanya baca koran,jangan Cuma nonton tev dan denger radio.sinetron saja yng dipelototin.dengerin berita sekali-sekali dong..”Faris langsung memberi wejangan padaadeknya yang semata wayang itu. Yang diberi wejangan boro-boro terima, bibirnya langsung cemberut kerucut. Hu... siapa yang tidak gaul?!emang mas Faris yang cerewat kayak kakek-kekek!Eva juga tahu alau itu buntang mars yang lagi deket sama bumi.’ ”bukannya bintang tapi planet!’ralat Faris. ”iya..iya..tahu.sudah,sudah...t dak usah ikut-ikutan Eva.masuk lagi sana!” ”ampun deh, anak Ummi ni galak amir.makanya mi...lain kali itu Eva gak boleh dikasih makan daging dan sejenisnya. Penyakit darah tingginya kambuh. Mudah marah mi, he..he..”ejek Faris.yang diejekin sudah siap melempar dengan sandal jepit. ”Faris,sudah. Kamu juga masuk sana. Eva ayo cepat masuk, Abah sebentar lagi datang.kamu belum belajar”, Ummi mngingatkan. ”abis mas Faris sih, usil” “siapa yang usil?orang ngasih tahu yang bener juga.tuh mi...anaknya Ummi suka ember.gosip mulu sama teman-temannya.” “mas Farissss!teriak Eva mengejar Faris yang melarikan diri dari lemparan maut sandal jepit Eva. Faris berlari kekamarnya tapi lupa menutup pintu. Eva tiba-tiba sudah ada didepan mata Faris lengkap dengan sandal jepit yang siap meluncur dari genggaman tangan kecil Eva. “ampun...ampun...mas Faris nyerah deh!”Faris meringis, jangan dilempar, plis, nanti mas Faris beliin cokelat ya. Tapi jangan lempar tu sandal jepit. Kasian sandal jepitnya tar dia minder kalau dipake melempar orang ganteng kaya mas Faris hehe...”Faris mengangkat tangan. ”hu..sok ganteng!Mmm...cokelat ya?”mata Evamembesar seketika demi mendengar nama makanan favoritnya!wah, boleh juga tuh!tapi yang paling mahal ya!awas lho!ancam Eva. ”iya...iya tapi mas Faris minta satu syarat lagi sama kamu,”pinta Faris. Wajah Eva yang sudah ceria kembali cembrut. ”tidak mau!ujarnya ketus. ”ehhh... dengar dulu anak manis, jangan galak dulu. mas Faris mau nanya dikit...saja” ”tanya apa?” ”kemarin kan Eva sudah tahu kalau mas fais mau jadi penyiar radio di jivo Fm itu, nah, kemarin kamu kasih tahu ke teman mas Faris ya?”bisikFaris pada telinga Eva.Faris takut Ummi dengar rencananya itu.ini kan proyek rahasia.proyek kejutan untuk semua. Sayangnya Eva mengetahui itu semua sebelum waktunya.maklum, itu anak suka ngobrak-ngabrik kerjaan Faris. ”emang kenapa?” ”tidak apa-apa sih. Cuman lain kali jangan bilang siapasiapa dulukalau mas Faris mau ikutan seleksi itu. Kan belum tentu diterima. Nah tugas kamu yang terpenting sekarang, kamu harus jaga mulut, jangan sampai kamu bilang dulu sama Ummi atau Abah. Mas Faris nanti bisa gak boleh ikut sama Abah. Gitu...ngerti? jadi kamu pura-puranya tidak tahu saja kalau mas Faris lagi ikutan itu.OK?!”jelas Faris pada Eva. ”kalau gitu cokelatnya harus dua dong cokelat tutupmulut sama ganti lemparan sandal ini...hihihi...,”Eva nyengir. Gilian Faris yan cemberut. ”huu, cewek matre...cewek matre...kelaut aje...!”ledek Faris. ”cowok kere..cowok kere...cuekin aje...!wek...!balas Eva. ”ya sudah,pokoknya kamu janji tdak bilang siapapun.jangan ngember kayak kemarin.OK!tugas kamu sekarang do’ain mas Faris daripada ngember terus.dua hari lagi seleksi tahapselanjutnya. Kalau mas Faris keluar gak lama, itu tandanya mas Faris lagi latihan ditempat temennya mas hafid.dia juga penyiar. Nanti kan asyik punya kakak keren yang jadi penyiar.kamu bisa ikut-ikutan terkenal lho...terenal sholeh, ganteng, sabar,penyayang, baik hati, tidak sombong, tAbah,bijaksana...” Faris terus mengoceh.sedang Eva sudah raib dari kamar itu,melarikan diri.tidak tahan dengan ocehan kakanya.aduh...tidak kuat Ummi! Hari minggu tida seperti biasanya bagi Faris. Hari minggu ini lbih terasa pasalnya, hari ni adalah hari H seleksi calon penyiar tahapkedua.dari limapuluh pendaftar penyiar pelajar, yang terpilih untuk seleksi tahap slanjutnya hanya 20 orang. Tak disangka tak dinyana Faris termasuk didalamnya. Padahal Faris sudah sempat down ketika sekali waktu tim uji yang seorang wanita seksi mengajaknya salaman. Tapi Faris hanya menyembahkan tangan didadanya. Wanita itu sempt kelihatan terkejut dan menatap heran pada Faris. Wajahnya langung sinis.untungnya Faris langsung memberi senyuman ramah. Faris sempat berpikiran negatif. Ada kekhawatiran dihatinya. Wah bisa dianggap eskrim, eh ekstrimis nih.tapi....tdak apa-apa, bukannya itu satu kebenaran. Satu point dakwah buat farus. La haula wala kuwata ilabillah!begitu pikir farus waktu itu. Hasilnya?alhamdulillah tahap seleksi pertama sudah dilalui. Sekarang tahap kedua. Setelah diwawancara sekarang saatnya menunjukkan kemampuan kepenyiaran. Bercuap-cuap didepan mix.dengan menggunakan dua bahasa. Bahasa indonesia dan bahasa inggris. Waktu menunjukkan pukul 08.00. Faris sudah mempesiapkan motor. ”mi hari ini Faris ada acara penting dengan teman. Do’akan ya mi...sukses acaranya!”pinta Faris pada Ummi tanpa menjelaskan apa yang akan dilakukanya. Ummi hanyamengangguk. Faris mencium punggung tagan Ummi. setelah itu Ummi sibuk sendiri. Beliau juga mau pergi. Mengisi pengajian ibu-ibu dikampung sebelah. Abah?beliau memang Belem pulang dari kemarin. Sedang Eva, menyeringai ganjil.”jangan lupa janjinya ya!”celetuk Eva,mengingatkan pesan sponsor. Faris hanya mengangguk. “met berjuang ris, semoga sukses”. Teriak mas hafid yang sedang mencuci bajunya dibelakang, menjawab pamitan Faris dari ruangtamu. Faris segera menunggangi motor honda cepernya. Tancap gas dan bruuummmm...! motor itu segera melaju membawa Faris menuju studio Jivo Fm. Kesibukan lalulintas jogja yang lebih ramai dihari minggu, tak menyurutkan tarikan moto Faris yang diatas rata-rata.jalan-jalan dijogja memang sudah Faris kuasai. Tidak lebih dari 30 menit Faris sudah sampai ditempat tujuan. Setelah menyimpan motor diparkiran, Faris beregas menuju studio mungil, Jivo FM. Situasi sudah cukup ramai. Sebagian peserta sudah hadir disana. Tangan Faris agak sedikit keringatan. Grogi juga nih. Tapi Faris segera menarik nafas, ups...tak biasanya ia grogi. Mungkin Faris telalu berharap banyak untuk bisa masuk menjadi penyiar. Sesuatu yang sebenarnya ia impikan sejak dulu. Tapi ia segera mengingat jurus menghilangkan grogi yang pernah ia dapatkan dari majalah yang ia baca.biasanya sih jitu. Faris menarik nafas, mulai menata hati. meluruskan pada niat semula. Bismillah, gumamnya pelan. ia pasrahkan semua pada Alloh.bukankah kewajiban manusia itu hanya berusaha. Sedang keputusan terbaik itu hanya ada ditangn Alloh. Faris yakin Alloh akan memberikan yang terbaik untuknya. Baik itu berupa kegagalan, ataupun kebrhasilan dalam seleksi nanti. Berpikir positif!bisik Faris pada hatinya. Its all for dakwah, man. Faris menarik nafas.setelah merasa cukup lega, ia segera mempersiapkan beberapa materi tes yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Hanya mengecek ulang, dari persiapan-persiapan semalem. Mantap!perasaan Faris bertambah lega. Waktu terus berlalu, setelah pesrtamenyerahkan kaset rekaman suara mereka masing-masing,seleksi segera dimulai. Peserta dengan urutan awal sudah masuk studio siaran.Faris sendiri mendapat nomor urut 15. Faris pun segera mencari teman mengobrol. Menunggu sambil diam, wah bisa menambah beban pikiran. Mending cari teman. Siapa tau dapat saudara seiman. Beberapa menit kemudian Faris sudah mendapat kenalan. Seoramg siswa SMU Budi Pekerti. Namanya Wiwied. Orangnya asyik juga, cukup baik lagi. Ahirnya suasana yang paling menegangkan itupun datang juga. Gilirannya menunjukkan kebolehan menjadi penyiar! aHmmm...bicara didepan umum, bagi Faris itu sudah biasa. Pengalamannya memberi sambutan atau memandu kajian itu sudah makanan seari-hari.tapi...bicara sebagai penyiar radio, itu lain lagi ceritanya. Faris pun segera meyakinkan diri, toh dia sudah berusaha mempersiapkan diri secara maksimal apalagi yang lain juga kelihatannya sama saja seprti dirinya. Coba-coba! Faris melangkahkan kaki memasuki ruang studio yang cukup mungil itu.ruangan bercat kuning dengan AC didalamnya, trasa sangat dingin. Ada Headphone dan mix yang sudah menunggunya disana. Seorang operator menghadap kearahnya.dia memberi instruksi dari ruang sebelahyang tepisah oleh kaca bening. Faris segera duduk dikursi penyiar. Memantapkan posisi agar suara yang keluar lebih lancar. Lalu dikenakannya headphone dan diaturnya posisi mix agar sesuai dengan posisi mulutnya. “Sudah siap?”tanya sang operador. Faris mengangguk cepat. ”Baik, saya hitung. Satu...dua...tiga...mulai!”operator menggerakkan tangannya, tanda mempersilahkan Faris untuk bicara. Faris segera melaksanakan perintah-perintah yang diinstruksikan sebelumnya. Tahap pertama tes, Faris diberi teks berita kecelakaan. Dia ditugasi membaca berita itu seperti penyiar radio membawakan berita. Walau ada keringat dingin merembes didahinya akibat agak grogi, Faris mampu membawakannya dengan cukup baik. Tugas selanjutnya, Faris bertugas memandu acara untuk anak muda. Anak gaul. Disini Faris agak sedikit kikuk. Bukan apa-apa, ia harus menyebutkan beberapa grup band atau penynyi asing yang selama ini tidak ia kenal. Bahasa yang dibawakanpun harus gaul. Sesuai dengan acara anak muda. Susah payah Faris mengeluarkan semua koleksi bahasa gaulnya. Lumayan ternyata bahasa candanya dengan Eva dan kejahilannya selama ini yang kadang-kadang diprotes temannya dirohis malah bermanfaat. Tahap selanjutnya, membacakan teks bhasa inggris. Ini point penting bagi Faris. Bahasa inggrisnya cukup bisa diandalkan. Tes akhirnya terlewati sudah. Faris menarik nafas lega. Ia segera keluar dari ruangan sudio itu. Wiwied teman barunya tersenyum menyambut. Dia sudah selesai terlebih dahulu Faris segera pulang. Pengumuman baru akan diketahui seminggu kemudian. Dan waktu seminggu ini, akan menjadi saat-saat yang menegangkan bagi Faris. Duh, kuat gak ya?

Senin, 05 Maret 2012

Langkah Kecil

Sebenarnya kesempatan Faris untuk mewujudkan cita-citanya itu sudah datang padanya beberapa kali. dulu waktu kelas satu ada seleksi penyiar diradio yang cukup terkenal dijogja. tetapi waktu itu Faris belum berani ikut. lagi pula dia kan baru ikutan rohis disekolah. sedang yang ikutan seleksi penyiar radio? jangan tanya deh...anak-anak kaya mana yang ikutan. bukan Faris alergi sama anak-anak yang ngaku-ngaku paling gaul itu. cma rasanya Faris belum tepat gabung sama mereka. Faris ingin tahun pertama sekolahnya ia mendapat teman yang bisa membawa kebaikan. tentu saja dirohis pling tepat. (deu...yang promosi!) dikelas dua malah banyak lagi kesempatan itu. beberapa radio dijogja sengaj a cari penyiar-penyiar muda dari SMU-SMU. tahun 2002 dijogja kan booming kemunculan radio baru. seperti jamur dimusim penghujan. mereka bersaing untuk merebut hati pendengarnya yang para ABG itu. tapi waktu itu Faris juga lagi sibuk dirohis. kelas dua kan dia menjabat sebagai ketua rohis. pernah sih coba-coba ikut seleksi. tapi karena amanah yang lebih pentingdirohis ahirnya Faris gagal mengikuti beberapa tahap seleksi. belum lagi grup nasyidnya yang emang memerlukan banyak perhatian darinya. tanpa latihan dan manajemen yang baik, grup nasyid seringnya cepet bubar. asli, terlalu sibuk kalau ditambah kegiatan yang lain. tapi dikelas tiga akhir, ternyata waktunya cukup luang. segala jabatan sudah ia lepas. tim nasyidnya juga sudah regenerasi. ebtanas sudah selesai. tinggal ujian masuk peruruan tinggi negeri saja yang Faris tunggu. belajar juga tidak terlalubanyak. Faris sudah siap-siap menghadapi itu sejak awal masuk kelas tiga. jadi Faris merasa baik-baik saja. dan tidak terlalu bermasalah. percaya diri nih ceritanya. lalu kesempatan emas itu datang. ada radio baru dijogja yang lagi seleksi penyiar. radio anak muda. “wah, bisa pas nih dengan misiku, batin Faris. jadi apa salah nya jika ia mau mencoba mewujudkan cita-citanya yang sudah dua tahun tertunda itu? apalagi setelah diskusi sama mas Hafid dia sangat mendukung. tapi halangan dilangkah awal itu selalu ada. baru saja Faris mendaftar mau ikutan seleksi jadi penyiar, gelombang protes sudah banjir. terutama dari teman-temannya yang sesama anak rohis. entah siapa yang telah membocorkan rencana rahasia Faris ini. dia tahu, kalau dia secara terang-terangan menampakkan diri ikut dalam seleksi penyiar radio, demonstrasi besar-besaran anak rohis bakal terjadi. makanya Faris sembunyi-sembunyi. diam-diam saja. tiba-tiba gerombolan anak rohis mendatanginya disuatu pagi yang cerah, didepan mushalla saat Faris bareng Pandu, temannya dikels dan rohis baru saja selesai sholat dhuha. “ris, tuh lihat pasukanmu menuju kemari. ada acara apa?” tanya Pandu heran. segerombolan akhwat rohis al-karim, rohis sekolahnya Faris di SMu bakti, datang menuju musholla. “tidak tahu tuh! tapi kayaknya menuju kemari. ada apa ya?” Faris balik tanya. yang ditanya menggeleng keras. “yee...mana aku tahu. kamu saja yang ketua gank Al-karim tidak tahu. apalagi aku,” protes Pandu. Faris nyengir.”iya ya, lupa aku!eh mereka sudah dekat tuh. Tapi kayaknya mereka mau ketemu aku deh. Bukan ge er sih, he he!” “ huh sok dicari kamu. Sok seleb,. Awas hati-hati, kamu mulai main api sama akhwat. Kebakaran jenggot tahu rasa kamu! Jaga hati, jaga mata. Kena jebakan setan tahu rasa!”Pandu mengingatkan. Iya pak ustadz.makasih tausiyahnya. Aku kan cuma bercanda. Tapi...eh, lihat! mereka benar-benar kearah kita kok. “ sebelum Pandu dan Faris bereaksi lebuh lanjut. akhwat-akhwat itu sudah mengucap salam. Pandu dan Faris segera menjawab dengan serempak. “wa’alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh!” setelah situasi cukup nyaman untuk berbincang salah seorang dari akhwat itu membuka pembicaraan “afwan ris ...ana mau tabayun sama antum. Kemarin ana dengar kabar kalau antum mau ikut seleksi penyiar radio jivo itu yah?”tembak rina, tanpa ampun. Matanya agak besar tajam menatap Faris galak!Pandu bengong. Mbak menatapnya jangan lama-lama, gozul bashor dong. Lama-lama ditatap kan bisa menimbulkan ge er, batin Faris.(dih ini anak, diseriusin masih juga bercanda). “Kamu tahu dari mana rin?”jawab Faris. Wajah imutnya masih menyisakan cengiran jahil. “yang nagsih tahu itu tidak penting. Yang penting sekarang, benar tidak berita itu. Ini menyangkut kredibilitas rohis Alkarim dihadapan adik-adik kelas kita nanti. Terutama yang baru tertarik dengan rohis.”jawab wulan, Rina, lina, dian, dan nia mengangguk mengiakan. “wah ris, kamu jadi penyiar. Kok tidak bilang-bilang aku. Siapa tahu aku bisa ikut, “celetuk Pandu sok kaget. Akhwat-akhwat itu tambah melotot. Pandu jadi mengkerut syeremm booo! “ ris, antum itu mantan ketua rohis, masa mau jadi penyiar radio gaul kayak gitu. Nanti bagaimana kalau kamu disuruh mandu acara yang tidak syar’i. Apalagi nanti lagu yang diputar juga bukan nasyid,” protes wulan. Iya ris, bagaimana nanti citra rohis dimata adik-adik kita. Alumni rohis alkarim kerjaannya jadi penyiar radio yang jelas-jelas tidak syar’i. Mantan ketuanya lagi!” timpal lina. “sebentar-sebentar ibu-ibu, jangan terbawa emosi gitu dong. Sabar...tenang...tenang...!tarik nafas, lalu mari kita dengarkan penjelasan dari saya, OK?!” pinta Faris masih dengan santai dan bercanda, yang diajak bercanda dingin-dingin saja. sebel kali! Faris tidak mau serius. “ris, ini masalah serius. Jangan bercanda dulu. Bungkus tuh bercandanya disaku celanamu!”ujar nia dengan muka serius. Tapi yang lain malah pada ketawa. Lha iya, muka Nia boleh serius. Tapi kalimat yang keluar bikin orang pengen ketawa. Nia dicubit Lina. Nia segera diam campur bingung. “ begini teman-teman, saudar-saudaraku, terus terang sebalum ini aku memang merahasiakan rencana itu. Mohon maaf sebelumnya. Lagian buat apa aku kasih tahu ke orang-orang kalau aku ikut seleksi jadi penyiar radio. Iya kalau diterima, kalu tidak?bisa malu kan. Itu pertama. Bukan bermaksud menutup-nutupi kok. Yang kedua, setelah aku lihat dari acara yang ditawarkan aku melihat acaranya cukup bermanfaat untuk kita semua. Acaranya khusus untuk anak-anak SMU seusia kita. Bahasanya juga seputar pelajaran pengetahuan umum. Jadi aku pikir mengapa tidak?kalau aku bisa jadi penyiar, aku kan bisa sekalian promosi kegiatan rohis kita. Terus, siapa tahu aku bisa mengurangi cap eksklusif rohis kita ini dari pandangan teman-teman diluar kita. Kita bisa tunjukkan ke mereka-mereka, yang menganggap kita tidak gaul bahwa :’kita juga bisa gaul” jadi penyiar asyik saja, Ok!’kan bisa lumayan tuh. Begitu maksudku. Gimana bisa diterima,?”Faris melihat wajah teman-temannya satu-satu. Serius ni yee mikirnya. Batin Faris. Kening mereka berkerut semua. Cuma nia yang kelihatan tak acuh. Kalau dia mungkin kapok, soalnya pembicaraan dia yang sudah sebegitu seriusnya masih dianggap lelucon juga. “ tapi ris, bagaimana dengan lagu-lagu yang tidak islami itu?”tanya wulan. “aku juga belum tahu persis. Acara itu. Bentuknya kayak apa. Aku baru ikut tahap seleksi pertama. Tapi kalaupun harus terpaksa ada, kan tidak lebih banyak dari acara yang bermanfaatnya. Nanti kalau aku sudah jadi penyiarnya, siapa tahu bisa memasukkan lagu-lagu nasyid. Biar kayak dimalaysia nasyid dan lagu pop disana sudah sejajar. Jadi dimanapun dan kapanpun acaranya nasyid boleh diper dengarkan, aku kan baru mencari celah dakwah. insyaAlloh. Jadi belum banyak plihan. Begitu!” “ tapi pilihan dakwahmu sangat beresiko Ris, “ungkap rina. “lho kalau kita selalu takut dengan resiko, kapan kita akan mulai sebuah perluasan dakwah. kalau kita hnaya berkutat didaerah aman mana bisa kita mengajak saudara yang kita sering menganggapnya sangat jauh dari islam itu untuk mengenal islam. Memang resikonya berat. tapi resiko itu harus coba kita hadapi. Nah disitulah aku perlu dukungan saudara-saudaraku yang sudah banyak paham tentang islam. Untuk tetap menyeimbangkan lingkunganku. agar aku tetap terjaga dari khilaf, lupa, fitnah. saling jagalah, bagiamana?”Faris terlihat lega, sudah menjelaskan semuanya. “ya, kalau memang niat antum begitu, syukur. Kami juga berusaha mendukung semampunya. Tapi tetap waspada. Karena seringkali niat lurus hati kita berbelok ditengah jalan. Itu berbahaya,”ingat rina. Yang lain mengamini. Pandu yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia pun manggut-manggut. Entah ngantuk entah bingung. “eh, ngomong-ngomong, tahu dari siapa aku ikut seleksi jadi penyiar Jivo?”Faris menyelidik kembali masalah yang tadi hampir terlupakan. “aku tahu dari adekmu. Eva kan sering main sama adikku Nio, jadi dia juga agak dekat sama aku.” Nia mengaku.”dia sering cerita tentang keluargamu kok. Mulanya aku tidajk tahu kalau Eva itu adek mu eh, tapi itu bener adekmu?wah kenapa bisa amburadul begitu yah?”tanya nia polos. Yang lain mengulum senyum Faris terlihat agak malu. walaupun aga jahil bin usil Faris kan ikhwan tulen. Makanya agak malu kalau mengingat Eva adik kandungnya itu. Selama ini dia jadi aktivis rohis.sibuk dakwah diskolah. Mengajak teman-teman untuk mengenal islam, eh adek malah belum dekat dengan islam. dipikir-pikir Faris kaya Abah juga. tapi Faris sudah bertekad kok, Faris akan terus memperhatikan adik semata wayangnya yang baru beranjak menemui dunia remajanya itu. tentu, suatu saat Eva juga harus lebih mengenal islam. Jangan sampai kejadian deh, bapaknya ustadz anaknya preman. Tidak itu tidak boleh terjadi.! “oya,…Faris malah bengong!” nia menegur Faris yang sedang asyik memikirkan adeknya yang nyentrik itu. “o…Eva?emang dia itu agak bandel. Tau nih ketuaran siapa?” “ketularan siapa ya? Ya ketularan kakaknya paling. Eva sering bilang, mas Faris sukanya Cuma nasehatin. tapi mas dimintain tolong mas Faris pasti lagi sibuk. Tidak mau diganggu. Ultah Eva aja lupa.’ Nah lho, gimana tuh adikmu ris?”jelas nia. ”ya sudah kita tukeran adek saja. aku jadi kakak nio, kamu jadi kakak Eva.”usul Faris setengah bercanda,.”tapi sebenarnya aku juga resah melihat Eva. Sejak masuk SLTP agak sulit diatur. Ya sudah aku minta tolong kamu deketin dia ya!”pinta Faris pada nia. siapa tau dengan pendekatan kakak yang sama-sama perempuan Eva bisa nyambung, moga saja. ”insyaAlloh”angguk nia. ”malah jadi membicrakan masalah keluarga.semua kan sudah jels.mari kita bubar” usul rina. lalu mereka segera bubar dari musholla.

Everything About Faris

Sudah lama sebenarnya Faris ingin berbicara pada Abah soal kesibukannya. Tapi sepertinya Abah sama sekali belum punya waktu sengggang. Apalagi akhir-akhir ini Abah sibuk bolak-balik Yogya-Bandung untuk mengurusi penerbitan buku hasil karya tulisnya. Ceritanya sekarang Faris mau demo sama Abah. Menurut Faris, Abah itu terlalu sibuk. Setiap hari kerjaanya berkeliling kemana-mana (emang ngeronda terus, ya?). Sedang keluarga, hanya nomor dua!(nomor satu kan emang Alloh...,tul kan?) “Abah berharap anak-anak Abah bisa memahami Abah sebagai seorang ustadz. Abah harus memperhatikan ummat. Melayani mereka. Jadi perhatian Abah harus terbagi-bagi. antara ummat dan keluarga.“ Begitu alasan Abah ketika suatu hari Faris ada kesempatan untukl protes. Sebenarnya protes itu bukan yang pertama kali Mas Hafidz juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi ya begitulah, Abah tetap sibuk dengan kegiatan dakwahnya diluar. Faris bukan tidak setuju dengan kegiatan dakwah Abah. Cuma Faris merasa Abah itu kurang memperhatikan anak-ankanya. Ya, Abah itu jarang memnperhattikan anak-anaknya, tapi giliran Abah dapat kabar buruk tentang ank-anaknya, pasti Abah langsiung marah-marah. Kadang Faris sambel banget, eh bukan, maksudnya sebel banget. Kayaknya Abah kurang adil. Pengen terima baiknya saja. Padahal beliau sendiri jarang ada dirumah. Kadang-kadang tidak tahu mkasalah asal marah. Heh bingung! Tapi ya gimana lagi? Abah memang sangat sibuk. Ceramah, ngurus organisasi, nulis buku, ngurusin penerbitannya.macem-macem kerjaannnya dan tidak ada habis-habisnya. Kadang Faris kasihan juga sih. Abah tidak pernah punya waktu istirahat. Tidak hari libur atau hari biasa, pasti Abah punya acara. Jadi harus gimana donk? Kalau Ummi? Untunglah Ummi Faris adalah ibu yang baik sedunia. Ummi jarang sekali marah sama anak-anaknya. Orangnya sabar sekali. Faris lebih dekat sama Ummi dari pada sama Abah. Beliau itu seorang guru di SMU Islam Abu Bakar. Terkadang Ummi juga sangat sibuk. Ngisi ceramah juga. Terutama kalau pengajian ibu-ibu. Kadang juga diajak Abah untuk menemaninya ke Bandung. Soalnya di Bandung Abah punya rumah kontrakan. Tapi itu juga jarang banget. Pokoknya Ummi tak sesibuk Abah. Lagi pula sesibuk apapun Ummi, beliau tetap selalu perhatian sama anak-anak. Sesulit apapun kalau masih bisa pulang, Ummi selalu pulang kerumah. Kelemahannya, Ummi itu tidak tegaan. Setiap kemauan anaknya, jarang sekali ditolaknya, Ummi terlalu serba membolehkan. Memanjakan, istilah Abah. Tapi untunglah Faris punya Ummi yang teramat baik. Mungkin karena kombinasi sifat Abah dan Ummi yang agak berlainan itulah anak-anaknya tumbuh jadi anak-anak yang unik. Mas Hafid, dari kecil cenderung usil dan agak jail. Dia itu anaknya cukup gaul, suka seni lukis dan gambar dan punya kebiasaan nyentrik, maunya beda sama orang lain. Kakaknya Faris yang ini suka bikin yang unik-unik. Ngerjain orang juga salah satu hobinya. Pokoknya sering bikin yang aneh-aneh deh! Tapi dia jadinya kreatif. Sampai dia berkesimpulan untuk memutuskan kuliah di jurusan advertising. Dan kayaknya dia asyik betul disana. Sebenarnya Abah tidak setuju dengan hal itu. Tapi Mas Hafid jalan terus tuh. Maunya Abah, Mas Hafid jadi insinyuuuuuur dakwah. Tapi Mas Hafid milih jadi ustad periklanan. Hi hi hi... “Suatu saat dakwah juga perlu diiklankan, biar laku didenger, bah,” jelasnya pada Abah. Nah lho? Hmm..kalau Faris sendiri, kata orang sih suaranya bagus. Buktinya dia pernah juara MTQ tingkat provinsi. Urutannya? Rahasia dong!! Kalau bernyanyi, suara merdu. Kalau ngomong suaranya asyik,(Tidak sombing nieh, Cuma pamer! Hus sama saja, tidak boleh atuh!) Diantara anak-anak Abah, kata orang juga sih, Faris adalah anak paling soleh. (weks...!!!!!) Sebenarnya ada sinyal ( mang Hp?), bahwa Abah berharap Faris mau meneruskan karier Abah. Tapi...Faris sudah punya cita-cita sendiri. Lain lagi dengan sibungsu Eva. Adik nFaris semata wayang itu emang agak tomboy campur bandel. Abis maennya sama anak laki-laki mulu(ye...emang gaul ama anak laki-laki jadi bikin bandel?). termasuk kedua kakaknya tercinta Faris dan mas hafid. Plus gank sekolahannya yang super unik. Maman, nio, yana dan nanik yang anak gaul abis. Mainan yang dia punya juga warisan semua dari Faris dan mas hafid.mobil-mobilan, robot kecil, komik detektif dll. Tetapi kebiasaan paling buruk yang dia miliki adalah hobi bangety nonton teve dan debgerin radio. Apalagi kalau acara bola atau nacara heboh-heboh ala remaja sekarang. Walah bisa gawat dunia. Lupa makan, lupa tidur!biasanya, jadilah Ummi yang paling cemas. Abah yang paling marah, mas hafid yang paling cuek dan Faris yang paling sibuk nasehatin. Eava sendiri?tetep anteng. Bagi Eva, nonton teve is the best. Wah, gawat...gawat....gawat...! Itu yang paling Faris khawatirkan. Tahu sendiri mkan?acara-acara diteve dan diradio sekarang tidak ada yang sehat. Adanya banyak yang sesat.tapi kalu meelarang si Eva tidak nonton teve atau dengerin radio, sama saja menyuruh batu lari(ih mana batu bisa lari?yang nyuruh aja yang nggak ada kerjaan kali ya..he..he..). maksudnya hampir tidak mungkin. Asli Eva sudah kena penyakit hobi nonton,akut. Ha? Salah asuhan kali ya?hmmmm...apa salah yang mengasuh?tidak tahu! Ummi sudah sering mengingatkan dengan berbagai cara yang halus. Abah sudah sering marah-marah sama dia. Tapi dia tetep cuek bebek!(untung saja tidak jadi bebek beneran, baru nyaho dia!) “ nanti kalau ketinggalan info dari teman-teman kan gak enak, tidak gaul! Emang enak jadi orang yang dikacangin. Kacang kan mahal mas,”tangkis Eva kalau Faris mengingatkan. Emang sih, Faris juga mersa lingkungannya menuntut hal semacam itu,. Kalau sese0oreang tidak ikut mode, tidak up to date dianggap tidak gaul.ketinggalan jaman.katanya kayak tarzan pindah kekota saja. Suasah...susah. jadi remaja jaman sekarang emang susah. Harus waspada. Dimana-mana dikepung “aliran sesat yang menyesatkan”teve, radio, majalah, semua bikin jauh dari islam. Pernah suatau hari Eva bikin ulah. Bikin Abah marah besar.ceritanya, suatu hari ada acara yang sangat digandrungi Eva. Dan acara itu sampai larut malam.malah sampai hampir pagi. Kebetulan waktu itu Abah keluar kota.eh itu si Eva bandel ma;ah nekat nonton sampai acara habis. Pas acara lagi seru-serunya Abah datang tak terduga. Maka terjadilah satu kemarahan besar.Abah membikot teve asampai seminggu.tentu saja seluruh keluarga kebagian getahnya. Herannya tuh anak tidk pernah kapk. Hobi nonton tetep tidak berkurang. Pusiiiiiiiing! Pusiiiiiiiing! Yang jelas karena keadaan adeknya itulah, Faris merasa perlu menjadi orang yang kompeten dibidang media massa. Televisi,radio atau apa saja yang sekarang digandrungi oleh remaja. Kasihan kalu lihat mereka.teve, dan radio, isinya racun semua buat mereka. Cita-cita Faris sekarang, ingin mengubah isi televisi atau radio menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk islam. Bukan menjadi perusak generasi islam. Emang sih, Faris juga seneng nonton teve. Bahkan sebenarnya pernah lebih parah dari Eva. Soalnya dari kecil Faris ingin seperti pembawa acara yang sering nongol di diteve itu.kayaknya kerjaannya seru.mengandalkan suara merdu. Faris kan punya suara merdu juga.(he...pede nih ceritanya!).pernah juga ingin jadi penyanyi dan bintang film.(wah, asyik kali ya,terkenal?). tapi setelah tahu kalau banyak hal yang ada ditelevisi itu ternyata menyimpang, Faris malah jadi ngeri juga. Tapi menurut mas hafid sikap muslim tidak bisa Cuma ngeri dan takut. “kalau kamu punya cita-cita kecemplung (emang masuk got?) didunia pertelevisisan,peradioan, itu bagus. Justru orang-orang sholeh diperlukan didunia hiburan kayak teve sama radio. Soalnya kalau teve dan radio Cuma diisi sama orang yang otaknya kotor, ya bawaannya nayangin acara-acara kotor melulu. Gitu ris!jangan sampai yang soleh-soleh kerjaannya Cuma dakwah didaerah aman. Masjid, mushola, kampus. Ditempat kayak gitu, yang datang kan Cuma orang baik-baik juga. Sekali-kali da’i itu hgarus melanglang buana kedunia yang berbahaya. Kalau di bisa menyebarkan kebaikan didunia berbahaya kaya teve dan radio yang sekarang, itu baru da’i hebat. Kaya aa gym tuh!” begitiu terang mas hafid sama Faris. Bikin hidung dia kembang kempis. Merasa cita-citanya didukung mas hafid. Memang sih biarpun mas hafid itu funky abis, dia tetep syar’i kok. (kayak motto siapa hayo?he he he.) beda dengan adeknya si Eva. Funky se-funky funky-nya. Mungkin karena dia masih bener bener ABG. Belum tahu banyak asam garam kehidupan kali ya?tapi karena Eva juga, Faris jadi lebih semangat mengejar cita-citanya. Walau ada kemungkinan tidak disetujui Abah. Seperti mas hafid. Tapi jangan disebut Faris kalau dia mudah jmenyerah. Tidak la yauw! Tak...u...u...

Kamis, 24 November 2011

Jalan-jalan Ilmiah

“ Ustadz ayo kita jalan-jalan ke Amplaz”, usul Rizki salah satu siswa saya. Kebetulan setiap hari Jumat saya bertanggung jawab atas satu kelompok Liqo kelas 4. Hari ini tidak ada materi khusus yang disiapkan. Jadi saya katakana pada anak-anak yang jumlahnya 10 orang itu baha hari ini kita hanya akan bersemang-senang. Hari ini akhirnya kita memang hanya senang-senang. Diawali dengan “bancakan” serabi solo yang kita beli di depan sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan jalan-jalan ke lapangan parker di selatan sekolah. “Kita jalan-jalan melihat pohon yg kalian tanam yuk!” usul saya pada anak-anak. “Ustadz kita jalan-jalan saja ke Amplaz,” Rizki kembali mengajukan usulnya yang belum saya tanggapi serius. “Iya Ust, kita jalan-jalan ke Amplaz. Aku mau maen di Timezone.” Arung mendukung usul Rizki. Anak-anak pun mulai berdepat tetang apa yang akan mereka lakukan di Amplaz jika mereaka jadi berkunjung ke sana. Hal yang mebuat saya agak terkejut saat anak-anak itu berdebat adalah usulan mereka. “Kita survey saja Ustadz di Amplaz,” usul Rizki,” Itu kan social science.” “Iya Ust, kita cari tahu orang-orang yang datang itu belinya apa? Terus mereka itu beli produk Indonesia apa enggak?” Tambah Nur Ilham. Dialog pun berlanjut sampai pada arah menetukan kapan waktu dan hal-hal teknis. Sembari berjalan dan melayani setiap pertanyaan yang mereka ajukan, saya berfikir apa kiranya yang mebuat mereka berfikir melakukan survey di tempat dimana mungkin anak-anak seusia mereka hanya akan berfikir bermain dan belanja. Saya jadi teringat mengapa di dalam kurikulum UK yang kami pakai selalu ada acara observasi dan collecting data alias mengumpulkan data dan membahasnya. Subhanallah kebiasaan yang dibangun dari kelas satu itu kini sedikit demi sedikit mulai menujukan hasil. Rasa ingin tahu anak yang dibarengi keterampilan membuktikan sebuah penomena. Mungkin inilah yang dinamakan Inquiry Learning Process. Wallahuaalambisawab. Saya hanya bisa berdoa semoga setiap ketulusan perjuangan Ustadz dan Ustadzah menjadi berkah bagi lahirnya generasi Islam yang lebih baik. Amin. Bersemangaaaaaat 

Selasa, 07 Juni 2011