Selasa, 06 Maret 2012
FARIS VS ABAH
Seharusnya keberhasilan Pandu merupakan saat-saat yang paling membahagiakan. Apalagi acara JAYUS akhurnya telah disetujui secara utuh untuk disiarkan. Bahkan Faris dan Pandu sudah mwncoba berduet. Hasilnya lumayan . tapi kenyataannya Faris sekarang sedang kesal berat. Gara-gara acara itu dan kesibukannya yang sekarang, Abah mulai mencium kecurigan pada Faris. Abah bertanya kesibukan Faris diakhir-akhir ini.
”Abah dengar dari seorang anak teman Abah, kamu sering main ke JIVO FM. Ada apa?”” tanya Abah suatu pagi. Saat itu Faris lanhgsung pucat. Soalnya selama ini dia masih merahasiakan kegiatanny aitu dari Abah. Maklum Abah pengennya kan Faris jadi penerusnya. Jadi ustad pengajian dan bisa menimba ilmu ke mesir sana. Setelah mencari kata-kata yang palig tepat akhirnya Farispun bicara.
”Faris lagi belajar, bah. Kebetulan ada acara bagus yang berhubungan dengan pelajaran sekolah. Lumayan bisa menambah wawasan, bah.”
”memangnya belajar dirumah tidak bisa?” sorot mata Abah tajam memandang Faris dengan rasa heran.Faris mengkerut.” rapi bah, belajar disana lebih enak. Faris bisa sambil belajar siaran, bah. Mmm, soalnya fariis mau
Apa kamu mau jadi penyiar?apa untungnya? Abah kan sudah bilang,Abah hanya kamu bisa meneruskan kerjaan Abah sekarang. Mengurusi umat. Malah jadi penyiar. tidak bisa!
Yakinkan ortumu dengan pilihan itu.tentu saja dengan cara yang baik, and kamu juga harus konsekuen dengan pilihanmu. Kamu harus bisa mempertnggunjawabkan apa yang kamu pilih, mengerti?”
Abah kelihatan marah. Faris tambah mengkerut lagi. Ummi yang sedang mempersiapkan sarapan hanya mentapa bingung menyaksikan adegan Abah dan Faris. Eva cengar-cengir. Senang, semua sudah kena giliran semprotan Abah yang dahsyat. Mas hafid yang barusan habis mandi malah ikutan nyengir. Soalnya dia itu pernah dibegitukan sama Abah. Dulu waktu dia menoak dipesantrenkan. Jadi mas hafid tidak berpniat unuk membela apalagi menolong. Soalnya itu itung-itung latihan buat Faris, pikirnya. Dih kejam banget punya kakak kayak gitu. Sabar ya ris.
”tidak! Jawab Abah tegas.”kamu tdak boleh masuk jurusan broadcasting.!”. wajah Farismengkerut. Dimainkannya beberapa brosur universitas terkenal diyogykarta. ”tapi bah, Faris pengen jadi penyiar. Kan jadi penyiar bisa sambil dakwah!”Faris mengiba. Wajah imutnya benar-benar memelas.
”dengar Faris, jangan buat Abah kecewa untuk yang kedua kalinya! Abah sudah cukup kecewa dengan kakamu. Abah ingin ada anak Abah yang meneruskan cita-cita Abah. Abah ingin kamu relajar di mesir. Di Al azhar seperti Abah. Nah, ini kamu malah aneh-aneh mau jadi penyiar. Sudah, pkoknya kalau kamu ingin sekolah ditempat yang lain, kamu cari saja biaya sendiri. Tidak usah minta ke Abah!”. Tegas Abah tanpa ampón. Mas hafid yang dirinya sedang diungkit-ungkit sama Abah dengan hati-hati kabur lewat pintu samping garasi. Takut ikutan kena semprot kali.
“yang sabar ya ris,anggap itu ujian mental dari Abah. Abah tidak bakalan nerkam kamu kok. Paling juga nanti nurutin kemauan kamu. Pokoknya aku dukung kamu lewat do’aku ini hehe..dadah Faris. Aku cabut dulu. ” hafid nyengir sendiri digarasi. Saat itu tba-tiba Eva muncul.
”mas hafid kok cengar-cengr sendiri. Stress ya dengar Abah marah? “Eva brtanya keheranan.
“ enak saja kamu! Masa masmu yang ganteng ini stress. Kasian yang ngantri jadi calon istri dong!hehe.
” siapa bilang punya mas stress itu enak? Malah malu tauk!”
” iya ding.dikku yang satu ini mang cerdas kayaka masnya yang paling ganteng ini,”Hafid menunjuk dirinnya sendiri.Eva langsung buang muka(eman mukanya ada berapa, bisa dibuang?)
Sementara didalam rumah, Faris masih belum mengakhiri prseteruannya dengan Abah.
”ayo berangkat, biar aku antar kamu kesekolah,”ajak hafid pada Eva. ”keburu kebagian marah sama Abah. Tuh engar, Faris masih dimarahin.” hafid dan Eva segera melarikan diri dari garasi. Tak ada acara pamit pada Abah.
”memang benar Faris saat iru maih mati-matian memerjuangkan keinginannya.
” tapi bah, kenapa Faris?kan Faris juga pengen punya cita-cita sendiri bah. Kalu mas hafid bisa menentukan keinginannya sendiri mengapa Faris tidak boleh?itu tidak adil bah. Faris tidak mau! Pekik Faris. Teganya ...teganya...teganya..., dumel Faris dalam hati ( dangdut banget!)
” ah, terserah apa maumu! Sharusnya kamu bisa memberi contoh pada adekmu. Tapi ya sudah, terserah kamu.” Abah terlihat sangat kecewa. Ia segera pergi keruang kerjanya, meninggalkan Faris sendirian diruang tengah.
Mungkin Abah pusing, soalnya semua anaknya ngeyelan. Hafid anakpertamanya malah mlih jadi seniman iklan. Ia milih kuliah di advertising. Kini malh Faris kuliah di broadcasting. Cita-citanya jadi penyiar. Si bontot Eva sudah terlihat bakat badung dan lnyentriknya. Abah munglin bingung, dia kan ustad.
Sedang Faris masih diam ditempat. Air mata Faris merembes disudut-sudut mata. Cita-cita yang tengah disusun. Seperrtinya akan hancur brantakan. Permohonannya pada Abah tak terkabulkan.
Jam dinding menunjuk pada angka jam tujuh lebih sepuluh menit. Faris melangkahkan kaki kedalam kamar dengan malas.
Faris segera berganti pakaian. Bete dirumah terus!
Rumah Pandu jam 9 pagi
Kenapa kamu ris, sejak datang wajahmu berlipat-lipat gitu. Belon disterika ya?” Pandu menyelidik. Yang ditanya hanya chu_x beybeh. Tak ada respon. Pandu jengkel juga.ditepuknya bahu Faris yang masih tetep manyun.
Wey,manyn mulu1 juelek tau!emang enak dikacangin?kacang mah mahal tauk!
Faris baru sadar kalau telah membuat sobatnya jengkel. Mulut bimolinya kini mulai mengendor.
”sorry pan, aku lagi bener-bener bete, nih. Betul-betul tertekan!” Faris menjelaskan.
” emang kenpa? Berantem sama kakakmu? Atau sama adikmu?tanya Pandu. Yang ditanya Cuma menggelengkan kepala.
”Hmmm...pasti tidak dkasih uang jajan!” celeuk Pandu lagi, sok tahu. ” ah, tidak mungkin...mmmm atau pengen nikh ya...? ha yo... ngaku!kecil-kecil jadi manten nih. Wih pernikahan dini dong. Sipa calonnya?” Pandu terus berkicau.
Tapi yang diajak bicara tidak jug merespon. Sepi. Padahal padu sudah stengah mati menarik perhatian sahabatnya. Faris malah tambah ete. ( emang enk dikacangin dua kali ihihi...)
”eh, ris kenapa sih?kalau ada masalah ngomong dong sama aku.! Siapa tahu aku bisa bantu.”akhirnya setelah Pandu memelas putus asa, Faris baru memberi respon.
Parah!kayaknya aku tidak bisa bareng sama kamu lagi, Du. Perjuangan kita bisa gagal total. Aku baru saja dimarahi Abah. Aku tidak boleh ambil jurusan broadcasting. Apalagi saat aku jelaskan kalau aku ingin jadi penyiar. Abah bukan tidak setuju lagi. Dia sampai bilng tidak mau biayai kuliahku. Targis gak tu?aku disuruh kuliah dimesir, pan. ” Faris mengakhiri pembicaraan dengan menelan ludah. Soalnya emang lagi kehausan dan tidak ada minum.
”wah seru dong1 wih kuliah diluar negeri. Kereeeen boooo!” Pandu menatap Faris penuh antusias. Faris malah tambah lemes.
” keren panya? Itu artinya kita tidak bisa meruskan duet siaran kita, tauk! Jelas-jelas aku dilarang jadi penyiar. Makanya sejak dari awal-awal aku dah sembunyi-sembunyi jadi penyiar. aku yakin Abah tidak akan setuju. Bisa-bisa proyek kita bisa gagal semua nih. Bagaimana dengan acara kita? Padahal itu baru satu-satunya acara islmi diradio kita. Masa baru ada sudah mau hilang lagi.?
Payah!payah!punya bapak ustadz ortodok banget. Masa aku tidak diberi kebebasan sama sekali. Masa aku harus kuliah persis seperti Abah. Aku kan bukan Abah! katanya aku harus meneruskan kerjan Abah sekarang. Jadi ustadz!mana bisa, aku tidak berbakat. tul gak pan?ah...Abah sih!” Faris minta dukungan. Pandu mengerutkan kening.
” hus jangan ngomong kayak gitu sama orang tua. Dosa. Iya yah, padahal yang ngajak aku jadi penyiar kan kamu. Kok jadi aneh begini? Pusing euy!Hmmmm.....sebentar....sebentar. tapi yang terpenting sekarang adalah kamu tenang dulu dan pikirkan solusi. Jangan langsung emoi gitu. Kamu ini aneh sekali sih ris. Masa mau disekolahin aja malah marahan sama Abah. Orana lain sih malah pada pengen sekolah keluar negeri. Nah ini?”
” yah kau pan, bukannya kasih dukungan kek!malah tambah nyalah-nyalahin maksudku kesini kan juga buat nyari solusi. Bukan diceramahin. Mendingan aku balik kalau begini sih!” bibir Faris kini tambah manyun lima centi lagi. Asli kalau ketahuan kayak gitu dia keliatan juelek buanget!
Ups...jangan emosian! Pantes saja bapakmu marah-marah. Kamu tuh baru diomongin sedikit sudah naik darah. Gawat banget. Bisa cepet tua.! Maksudku gini ris. Kamu kan selama ini pengennya dimengerti sama orang tua kamu,.tul gak?” Pandu menatap Faris yang masih juga cemberut.
Sekarang ditambah kerut kening. Tambah jelek! Makanya jadi orang gak usah sering-sering cemberut ya. Smile up dong!
”masa iya sih pan?’ Faris mulai mikir. ” perasaan selama ini aku selalu nurut apa kata ortuku. Jarang kok aku membanah perintah mereka. Kecuali kepepet. Aku kan penurut dan baik hati,’ ujar Faris serius.. uwek, perut Pandu serasa jadi mual.
” uh, sok GR kamu ris! Nurut apaan?makanya sering-sering infeksi eh, introspeksi dong! Bawaannya kamu tuh menang sendiri! Ris, sudah saatnya kita memahami ortu kita dong. Maksudku kita kan sudah gede. Dah mau lulus SMU nih. Ya, slama kita hidup didunia,sejak kita masih orok sampai sekarang sudah berapa kali sih kita beerusaha memahami ortu kita. Padahal kita selalu ingin dipahami mereka. Nah, makanya kita jangan emosian kalau menghadapi masalah sama ortu. Jangan sampe beda pendapat kita sama ortu malah jadi bikin dosa. Menyakiti hati mereka, bisa berabe tuh!apaagi katanya kamu jadi penyiar raddio itu untuk dakwah. Gimana mau dakwah kalau kita sendiri akhlaknya tidak baik sama rtu. Ironis kan?” jelas Pandu panjang lebar dan tinggi( emangnya bangun ruang).
Faris masih diam. Lagi mikir kali ya?
Tapi pan? Aku tak bisa mengerti untuk yang satuini. Masa sekolah aja harus ditentukan sama Abah. Maksa lagi. Itu nggak mugkin pan, emangnya Abah yang mau belajar?ini pelanggaran hak asasi manusia.!”
” iya untuk yang itu aku ngerti. Aku juga tidak mau kok dipaksa untuk kuliah ditempat yang aku rasa kurang minat. Tapi kamu haus bisa mengkomunikasikan keinginanmu pada Abah dengan baik. Istilahnya kamu jelasin visi misimu lah. Nah, ini belum juga menjeaskan dengan baik dan benar, emosinya sudah keluar duluan. Mana bis a meyakinkan ortu. Penampilan kamu saja sudah tidak meyakinkan!
Yang pentig sekarang kamu pikirkan alasan kuat kamu memilih keputusanmu.
Sok guru kamu, pan!” (Faris bete tapi kali ini betul-betultersentuh lho)juga diceramahain panjang lebar. Tapi ada benarnya juga sih kata-kata si Pandu. Tuh anak emang cerdas dan bijaksana. Eh malah mikirin si Pandu,lagi. Bukannya mikir tpi bagaimana baiknya menyelesaikan masalah sama Abah. Batin Faris ngoceh sendiri.
’gimana dapat dimengerti?atau mau tambahan penjelasan. Selanjutnya tarif konsultasi permenit dua ribu rupiah yah!”Pandu nyengr kuda. Puas.baru kali ini dia berhasil membuat sobatnya itu mikir. Biasanya sih susah banget. Abis dia kalahan sama Faris. Faris kan rada egois.
Huu,siapa yang konsultasi sama kamu. GR!siapa suruh ngomong terus. ”Faris ketus”aku kan gak minta.!”
Tung...Pandu terpukul berat. Heh Kok ada mahluk super egois plus jutek kayak gini ya?lagipula kenapa dia bisa sobatan sama makhluk aneh itu, Pandu heran sendiri. Nasib kali yah? Sabar....sabar....
Pandu gondok. Giliran dia yang cemberut Faris nyengir.
”katanya harus sabar, harus memahami.masa aru dikerjain dikit udah ngambk!gak bisa jadi konsultan dong?”Faris berusaha mencairkan suasaa.Pandu memang orangnya gampang luluh.jadi....
”ah kamu ini ris, giiran aku yang mau marah,bisa saja mencegahnya.kalau begini kapan aku marah sama kamu?”
”katanya marah itu bikin cepet tua. Jadi mending gak usah marah kan?he..he...he...Faris tersenyum menang.pndu Cuma bisa geleng kepala.bisa saja tuh anak balikin perkataan orang. Nyesel ngasih nasehat sama Faris.
”tapi walau bagaimanapun aku tetap berterimakasih sama kamu pan.kamu emang sahabat baikku, asli. Thanks udah mau dengerin dan mau ngasih nasehat sekarang aku mau balik kita lihat perkembangannya. Moga saja Abah mau menerima alasanku. so, kita tetep bisa berjuang bersama, OK man? eh iya, lupa aku kan tamu. perasaan dari tadi aku belum dikasih minum. kejam amat!
”orang kayak gitu dibilang tamu?ambil saja sendiri. Manja!didapur ada bibi. Minta sendiri sana!”Pandu ogah-ogahan.
“Masih ngambek ya?Faris terkekeh sambil berlalu kedapur”.
Angin sepoy meniup jendela kamar Pandu. Diluar udara panas sekali. Suara deru motor baru saja memasuki garasi. Mama Pandu pulang bawa rujak. Sebelum pamitan Faris menghabiskan sebungkus jatah rujaknya. Pikiran sedikit ringan. Yang penting uneg-uneg dihatinya sudah keluar. Jadi dia tidak stress sendiri. Biar stressnya dibagi dua sama Pandu. Uhhh enak saja!
”Ummi ayo dong tolongin Faris. Bilangin keAbah. Rayu atau gimana kek,biar hati Abah luluh. Bantuian ya mi. Skali ini saja, pliz.mi!”Faris merengek menja. Kebiasaan jelek dihadapan Umminya muncul lagi. ”nanti kalau Ummi banyak kerjaan kantor Faris bantuin deh”.
”uhhh boong mi!jangan mau! ” sela Eva. Adik Faris yang kelas tiga SLTP itu muncul tiba-tiba. bak siluman. Seragam biru putihnya masih lengkap dengan tas anyaman pandan, jilbab mungil dan sepatu bootnya.
”husss...kamu anak kecil. Ikut-ikut nimbrung lagi.! Ini urusan orang dewasa tahu!” Faris kesal. Adik semata wayangnya itu memang sering nimbrung tanpa diminta.
”biarin! Orang Cuma kasih tahu sama Ummi kalau yang namanya Faris itu sukanya boongin orang. Wek!”Eva tidak mau kalah. ”boong apaan? Enak aja nuduh orang sembarangan!” Faris sewot. ” tuh kan, sedah dosa tidak merasa. Mana janji cokelatnya? Sudah sebulan tuh mi dia janji. Kalau tidak aku bilang semua rahasianya ke Ummi sama Abah. !” Eva mengecam. Matanya sambil melirik Ummi yamg bingung campur heran.
”rahasia? Memang ada apa kamu ris?”Ummi menatap Faris. Faris melotot kearah adiknya. Gemes. Hiih punya adik berandalan. Salah sedikit langsung nyerang. Eva cuma nyengir ngerasa menang.
” tidak kok mi. Itu sih akal-akalan sibandel saja. Dia sirik sama Faris. ” Eva hampir mau angkat bicara ketika Faris memberi kode dengan tangan. ”orang cokelat udah dibelikan juga. Tuh ada dimeja belajarku. Huh dasar!”
Eva langsung kabur kekamar Faris. Sepatu boot plus kaos kakinya dibiarkan trtinggal berantakan didekat rak sepatu. Tas nyentriknya tergeletak nelangsa didekatnya. Ummi Cuma geleng-geleng kepala. Perhatiannya kembali tertuju pada Faris.
”jadi gimana mi? Tolong ya mi bilangin ke Abah. Soalnya kemarin Abah marah.Faris tidak berani mi.”Ummi terdiam sejenak. Serius! Faris menunggu reaksi.
“kali ini bukannya Ummi tidak mau bantu. Ummi sudah berbicara sana Abah. Sebelim ini kamu memang kamu sudah pernah menjelaskan sama Ummi. Abahsepertinya cukup mengerti kamu. Justru Abah ingin melihat kedewasaan kamu. Kalau kamu terus megandalkan bantuan Ummi , iu tandanya kamu masih anak-anak. Belum mau menerima resiko terburuk dari cita-citamu. Bagaimana?”
“yah Ummi tega banget. Kali ini saja. Yang terakhir. Lain kali kalau ada masalah sama Abah Faris selesaikan sendiri deh!”
” ris, setiap ada masalah kamu mesti kamu bilang begitu sama Ummi. Sekarang saatnya memulai menadi orang dewasa. Kamu harus mulai mencoba dekat sama Abah. Kamu harus mulai mengerti Abah.”
Faris mulai menarik nafas. Kalau Ummi sudah menyatakan seperti itu, itu artinya dia memang harus berjuang sendiri. Ya, sudahlah!action must go on!
Ba’da sholat isya Abah langsung keruang bacanya. Faris yamg sudah berusaha mempersiapkan mental untuk berbicara sama Abah masih juga diam . deg-degan. Ia berusaha mencari kata-kata yang pas untuk memulai. Sedang Abah malah masih anteng dengan bukunya.
”bah” Faris mendekati Abah yang masih terus membaca buku. Abah melirik. Kemudian ia meneruskan bacaannya. Faris sedikit ragu. Tapi ia harus segera bicara. Tak baik membiarkan Abah merasa marah lebih lama bisa-bisa mendapat jatah neraka dunia dan akhirat duluan.
Hii ngeri!”bah” ulang Faris. Faris mau bicara. Hmmm...Faris minta maaf atas kejadian tadi siang.” ugkap Faris.
” maksud kamu””jawab Abah seperlunya. Ia masih menekuni buku ditangannya. Sabar Faris, dia kan orang tuamu. Jangan trepancing emosi, Faris menenangkan diri sendiri.
Maksud Faris, Faris minta maaf sama Abah karena sudah biikan Abah marah. Abah tadisiang iini fais terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya,.
” Abah memaafkan tidak?”tanya Faris kemudian.. Abah belum merespon. Faris menarik nafas panjang.
” ris, orangtua mana yang tidak memaafkan anaknya,” alhirnya Abah bicra. Faris sedikit lega. ”sebenarnya Abah juga salah. Abah mengerti, Abah tidak boleh memaksakan kehendak Abah pada nak-anak Abah. Tapi siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan Abah?. Kamu tahu sendiri kan, keluarga kita ini keluarga kyai, keluarga ustadz.
Kakek buyut kamu juga kyai cukup terpandzng tapi sekarang Abah melihat tak satupun anak anak Abah yang mengikuti.tak satu orang pun nak Abah yang terlihat mau meneruskan jejak itu.Abah khawatir ris. Siapa yang mau meneruskan amanah ini. Mungkin ini salah Abah juga. Salah dalam mendidik kalian....”Abah bicara panjang lebar.Faris tertegun sejenak. Merenugkan perkataan Abah.
” maafkan Faris, bah!selama ini mungkin Faris juga kurangterbun sama Abah. Sebenarnya Faris sudah jadi penyiar radio. Niat Faris juga untuk berdakwah. Kebetulan Faris lagi mengusahakan acara yang islami diradio itu.pendengarnya anak-anak muda. Faris pikir mengaa tidak berdakwah di radio?itu alasan Faris ingin kuliah dibroad casting. Faris ingin lebih faham lagi tentang seluk beluk penyiaran. Abah tahu kan sekarang ini anak-anak muda lebih senang mengikuti gaya hidup yang dibawa teve dan radio daripada nasehat orang tua atau guru.itulah alasan Faris tapi kalau Abah punya kehendak lain, mungkin memang Faris pengenmemang harus mempertimbangkannya lagi.
Abah diam, tanpa reaksi. Mungkin dia sedang memikirkan kata-kata Faris. Faris malah jadi deg-degan tak karuan.soalnya walau bagaimana dia tetap belum siap kalau keputusan Abahnya adalah tetap mengirimnya sekolah di mesir. La khaula , keputusan Alloh yang ter baik. Do’a Faris dalam hati.
”ris kalau kamu sudah brepikiran begitu, Abah sebaiknya tidak memaksa. Abah yakin kalau kamu sedah dewasa dan bisa menentukan pilihan yang baik.tapi Abah tetap ada syarat untukmu.
”apa bah?” tanya Faris was-was.”
“syaratnya kamu tetap harus memperdalam ilmu agamamu.Abah tidak mau kesibukan kuliah, siaran atau apapun membuat kamu tidak ngaji, tidak sholat berjama’ah. Abah tetap ingin melihat anak Abah menjadi seorang da’i!” Abah menekankan kata-katanya yang terakhir. Faris menarik nafas lega. Walau ada syarat dari Abah yang tidak mudah untuk dilaksanakan, tapi setidaknya kini Faris punya pilihan sendiri.
insyaAlloh bah,. Dimanapun dan jadi apapun Faris, Faris akan tetap menjadi seorang da’i! Faris memeluk Abah.” Terimakasih, bah!hik…hik..jadi terharu. Udah ah…India banget. Ganti seting yuk!
Cari Pasangan
Berkat nasehat sobatnya, Pandu kini Faris benra-benar mantap untuk kecemplung didunia yang penuh dengan hingar bingar dan warna-warni gemerlap anak muda jaman ayeuna. Jadi penyiar. Bentar lagi Faris terkenal nih.hihihi...Husy!luruskan niat!
Udah seminggu jalan Faris ikut pelatihan penyiar. Dunia broadcasting emang ternyata dunia yang menwarkan keasyikan tersendiri buat Faris. Soalnya dia bisa berekspresi dan menyalurkan potensi. Biar Cuma latihan siaran dan simulasai-simulasi doang, Faris sudah merasa enjoy banget. Nah, itu bikin Faris kelihatan menonjol dari peserta pelatihan yang lain. So...Faris berpikir, emang udah nasib kali yah harus jadi orang terkenal dimanpun dia berada. Hehehe ...ge-er, nih! Jadi perhaian orang terus. Dan seringnya diiriin sama banyak orang. (ups, jangan takbbur atuh, ris!). tapi itu semuia emang karunia Alloh yang harus disyukuri, betul kan?
Waktu jadi ketua rohis, walau Faris sebenarnya tidak soleh-soleh amat(ngaku nih ye!), toh Faris mampu memimpin rohis dengan baik. Waktu itu, rohis jadi kebawa-bawa tenar. Diantar ekskul yang ada disekolah Faris, rohis jadi favorit anak-anak baru untuk gabung. Soalnya kegiatannya juga seru-seru. Tim nasyidnya juara satu terus kalu ada lomba antar SMU. Kajiannya juga dibikin gak ngebosenin. Pernah satu kali pengajian, gak Cuma ngundang ustad tapi juga ngundang personil grup band yang sangat terkenal dan asli dari jogja. Namanya sakti. Itu ulu waktu jadi ketua rohis.
Nah sekarang, setelah jadi penyiar bakat entertainernya benar-benar muncul. Untungnya bakat Faris masih dibingkai oleh indahnya nilai islam yang emang indah itu. Jadilah banyak ide unikdari otak Faris. Termasuk idenya mau bikin acara nasyid khusus yang dipadu sama dunia pendidikan. Acara itu diusulkan saat workshop yang terahir minggu ini. Dan pihak radio terkagum-kagum dengan ide Faris yang cemerlang. Ide Faris untuk bikin acara JAYUS (’jam untuk yang suka science,’hehe...maksanih singkatannya!nggak papa ya?)ternyata menarik miat radio. Kata mereka sih acara itu idenya cukup unik, dan emang belum ada diseantero jagad raya ini. Plus namanya itu lucu banget. Faris sebagai orang yang memunculkan ide itu bertanggungjawab untuk menggodok lebih matang lagi konsep acaranya. Dan diperhitungkan materi apa saja yang bisa dimasukkan kedalamnya. Mirip mengolah makanan yang ditambahin bumbu penyedap disana-sini. Setelah dihitung-hitung dan dipertimbangkan, ternyata acara ini lebih enak kalau bisa dibawakan berdua. Dengan berdua acara akan terasa lebih hidup an santai. Itu pendapat Faris. Beberapa orang berpendapat enaknya acara ini dibawakan sendiri. Soalnya kan ada acara science alias keilmuan. Harusnya memang serius. Tapi beda pandangan Faris, menurut dia materi berat kalau dibawakan dengan berat bisa tambah berat. Malah tambah tidak ada yang mau dengar. Justru denga pembawaan yang santai itu, kita mengurangi kesan berat dari materi yang dibawakan, pendapat Faris waktu itu. Apalagi didalam acara JAYUS ini akan memaduakan antara keilmuan, agama dan seni.
”nah karena Faris ngotot mau acara ini dibawakan berdua, sedang orang yang jadi penyiar tidak ada yang cocok dengan karakter acara diradio jivo memang belum ada penyair yang kenal dengan nasyid sebelumnya, akhirnya Faris kebagian getah ulahnya sendiri. Giliran dia yang kebingungan harus mencari orang buat menemani dia, agar konsep acara yang dibuat duet itu bisa terlaksana. Dengan catatan dia adalah penyiar sukarela. Alias tidak dibayar. Soalnya piahka radio kan tidak mau rugi . tentu saja dengan syarat orang itu bisa jadi penyiar, faham agam dan suka seni juga. Aduh Ummi...., Faris jadi pusing sendiri.
Emang sengaja kali ini Faris dibikin sulit. Bukan suudzon sih, tapi kayaknya teman-teman satu angkatan pelatihannya agak kurang suka pada sikap menonjolkan diri (ini penilaian mereka lho!) yang dilakukan Faris.
Apalagi pakai bawa-bawa agama segala. Bebrapa dari mereka malah alergi dengan orang-orang yang rada ekstrim gitu. Tidak mau salaman. Kalau ketemu cewek pura-pura nunduk padahal mau. Ah, pkoknya menurut mereka itu rese banget.tapi bagi Faris itu sudah prinsip yang tidak boleh diganggu gugat. Yang penting ia masih bisa berakhlak baik pada mereka, hidup Faris...!
Saat pulang pelatihan, Faris masih juga memikirkan urusannya itu. Masih ada waktu satu minggu untuk mencari orang yang tepat da cappable untuk jadi penyiar, mendampingi dirinya.
Roni? Sekretarisnya dirokhis dulu. Cerdas sih, tapi terlalu pendiam. Faizin?Hmmm....pembawaannya terlalu serius. Nanti acaranya malah septi tabligh akbar. Gawat!kesan gaulnya bisa hilang dong. Siapa lagi ya...?Hmmm.....apri ....Dian.....nana....semuanya tidak cocok!
Sebentar....!kenapa tidak Pandu saja?dia itu kan orangnya sudah kenal deket banget sama Faris ( wah KKn juga nih!). orangnya lumyan ngocol, prestasi keilmuan, jelas Faris kalah. Cuma satu kekurangan dia, mudah grogi. Agak cepat gugup. Tapi kelebihannya, dia tidak mudah putus asa. Dia pekerja keras, pejuang gigih.
Faris yang sdang perjalanan pulang diatas motor hondanya segera berbelok kearah selatan, keraah rumah Pandu. Sore ini juga Faris harus bicara dengannya. rumah bercat putih itu terlihat sepi saat Faris sampai didepannya. Sebuah tombol putih kecil bergambar lonceng segera ditekan Faris.
Tingtong.....! Tingtong.....! Tingtong.....!
”assalamu’alaikum!”teriak Faris menambahi bunyi bel. Tak lama kemudian makhluk ramah full senyum ningol dari balik pintu sembari membalas salam Faris.
”kamu ris, tumben tidak ada hujan tidak ada angin datang tanpa pemberitahuan?adaapa?” Faris segera disambut dengan sejumlah interogasi. Faris menjawabnya dengan cengiran mencurigakan. dia segera melenggang mengikuti Pandu yang telah lebih dulu masuk kerumah.
”tenang pan, aku tidak akan meminta sumbangan dalam bentuk dana bantunan atau barang jenis apapun. Sekarang saatnya tuan rumah menyediakan segala minuman segar untuk tamunya. Setelah itu aku kan bercerita dengan nyaman dan santai,” pinta Faris yang emang lagi kehausan.
Pandu Cuma geleng kepala. Kebiasaan buruk, bisik hatinya. Tapi Pandu pergi juga kedapur.beberapa saat kemudian satu gelas penuh es sirup rasa nanas telah dibawa Pandu.
”makasih pan!Kmu memang sahabatku yang baik.emm begini...”
bla...bla...bla...
Faris segera menceritakan semua maksud dan tujuan dia datang kerumah Pandu. Dilengkpai sejumlah latar belakang alasan Faris memilih Pandu sebagai calon partnernya yang dicalonkan jadi partner bukannya terlihat senang malah terlihat pucat dan keringatan.
Ada dua alasan yang membuat Pandu jadi begitu. Pertama Pandu tidak pernah membayangkan dirinya bakalan bisa jadi penyiar., sedang selama ini walau dia itu tergolong anak paling cerdas disekolah, tapi kalau urusan ngomong didepan publik Pandu lebih suka mewakilkan kepada sahabatnya, Faris. Semua orang tahu Pandu orangnya grogian. Pernah dulu waktu dia dibangku SLTP saat dia jadi ketua kelas, ibu walikelas menyuruh ngasih sambutan didepan kelas. Selama seminggu Pandu udah persiapan. Tapi pas pelaksanaan teks yang harus dibacanya hilang. Dan terjadilah pengalaman buruk itu. Pandu tak bisa berkata apapun didepan kelas. Dengan wajah pucat, keringat bercucuran. Sampai akhirnya ibu guru menyutuhnya duduk. Pandu malu sekali. Dan sejak saat itu ia tak ingin lagi tampil didepan umum. Takut kejadian terulang.
Nah alasan yang kedua yang membuat Pandu jadi pucat adalah Faris. Sobatnya yang satu itu sudah milih orang pasti sudah punya alasan jelas. Pasti ada sesuatu. Pasti susah ditolak.pasti bakalan maksa....duh.
Jadi sekarang saatnya Pandu mencari alasan paling tepat untuk menolak ajakan itu. Pandu diam sejenak untuk dapat mencari kata-kata dalam memulai acara penolakan. Tapi sebelum ketemu, Faris sudah ngomong duluan.
”tenang pan semua sudah aku pikirkan matang-matang.kali kamu tidak bakalan menyesal mengikuti permintaanku. Ini semua untuk kebaikanmu juga. Menurutku kesempatan ini adalah saat yang tepat untuk mengubah Pandu yang dulu menjadi Pandu yang baru. Pandu yang lebih hebat lagi.”
” tapi Ris, kamu kan tahu senditi aku tidak biasa ngomong didepan umum.”
”lho tidak biasa kan tidak berarti tidak bisa. Lagipula siapa yang mau ngajak kamu ngomong didepan umum. Kita hanya akan berbicara cerdua. Didalam sebuah ruangan distudio. Tidak ada beda saat kita bicara dikelas.”
”tapi...itu kan didengar banyak orang. ”
” tapi, kita tetap tidak tahu siapa yang mendengarkan kita. ”
”hmmm, ris aku harus memikirkannya dulu. Lagipula mama belum tentu mengikinkanku.”
” baik, aku beri waktu satu hari . sabtu minggu ini keputusan radio sudah harus jelas. Soal bicara dengan mama itu urusanku. Aku yakin mama akan mendukungmu. Aku tahu beliau juga ingin kamu terlepas dari masalahmu itu. Dan ini kesempatan baik untuk mencobasesuatu yang akan membuat kamu keluar dari masalah. Saatya kau menghadapi kenyataan hidup, man. Kamu tidak bisa terus-teruasan takut dan traum masa lalumu. ”saatnya bangkit!”Faris berapi-api. Pandu bengong. Alasan yang ia berikan kali ini salah total. Kalau sudah mama yang mendukug Faris berarti dia berada diposisi lemeh. Tapi disatu sisi Pandu sebenarnya sih ingin berubah. Lebih percaya diri seperti Faris, tapi..
Pandu tahu Faris ingin membantunya mengatasi masalah dirinya yang dari dulu tak ada habis-habisnya itu. Grogi bila menghadapi publik. Dan memang benar Faris berniat mmbantu paandu untuk terlepas dari dunia Pandu itu. Pandu harus dikeluarkan dari zona aman dia selama in. Bersembunyi dibalik layar. Lagipula ini sebagai balas budi Faris atas nasehat-nasehat bijak Pandu selama ini yang sangat menolongnya. Giliran Faris membantu sahabatnya itu keluar dari masalahnya. Faris akan mencobanya. Setelah segalanya dianggap cukup Faris segera pamitan.Pandu yang masih trlihat bingung mengantarnya sampai ke gerbang rumah. Rumah Pandu sepi lagi. Mama dan papa Pandu belum juga pulang.
”tunggu apalagi? Saatnya kita akn ulai latihan!waktu kita hanya ada seminggu kurang aku yain kamu mampu.OK!setelah satu minggu kamu harus mengikuti tes kelayakan jadi penyiar. Pihak radio sebenarnya menawarkan penyair dari mereka. Tapi aku tidak yakin dengan idealisme mereka pada dakwah. Jadi aku mengajukanmu sebagai calon pasangan siaranku. So sekarang kamu adalh partner jihadki diradio nanti.jadi kamu harus lulus uji kelayakan sebagai penyiar. Kamu harus lulus, OK! ”Faris terus meyakinkan Pandu.
”Hmm tapi ris, nanti aku harus bicara apa distudio.? Pandu masih bertanya kurang yakin.
”pokoknya kita bicara seperti kita ngobrol dikelas. Bercanda seprti biasa. Materi yang kita perbincangkan juga masih sama seputar pelajatan. Hanya ada tambahan selingan nasyidnya. Satu hal lagi u ntuk tips-tips belajar baik. Rumus cepat dan lain-lain. Kamu kan paling menguasai tuh. So...itu bagian kamu untuk menceritakannya. Mudah kan bagimu? Kamu kan ahlinya dalm hal begiatuan. Itu juga sih alasanku mengajakmu jadi partnerku hehehe.”Faris nyngir. Pandu agak cemberut, kini dia tahu alasan paling tepat kenapa Faris mengajaknya. Tapi tidak apa-apalah kan saling bantu.
Akhirnya mereka mencoba berlatih distudio, atas ijin pihak radio. Beberapa aturan pembicaran diperkrnalkan Faris pada Pandu. Kalimat pembuka dan penutup acara. Sapaan untuk pendengar. Nomor telepon, dan hal-hal teknis yang harus dihafal oleh Pandu dalam memandu acar diradio segera diajarkan Faris. Dan memang tidak terlalu sulit. Cukup ketenangan dan enjoy saat bicara, semua keadaan akan baik-baik saja saat siaran. Dan satu hal penting dalam siaran, materi yang dibawakan harus benar-benar telah dipersiapkan dengan matang. Informasi-inrormasi yang mndulung acra harus benar-benar komplit dan siap. Untuk kesimpulan sementara dalam latihan, Pandu merasa siaran diradio tidak terlalu sulit. Waluun masih ada rasa deg-degan saat mnghadapi mix.
Seminggu telah berlalu. Sudah satnya mengikuti tes kelayakan. Seperti tes yang dijalani Faris dulu. Pandu akan dipersilahkan memasuki ruang siaran. Diberi beberapa teks bahasa indonesia dan bahasa inggris. Pandu terlihat pucat dan tegang.
“ris, sebaiknya aku tidak jadi ikut saja ya. Rasa-rasanya aku mau pingsan menghadapi tes ini, aku grogi sekali, ” keluh Pandu.
”tariklah nafasmu dalam-dalam. Tenangkan hati. Jika kamu merasa grogi anggap itu sebagai hal wajar. Itu sama sekali bukan hambatan bagimu untuk menjadi penyiar hebat. Grogi adalah bagian dari pembelajaran itu sendiri.semua ketakutan itu wajar bagi semua pemula.tapi satu hal yang tidak boleh terjadi.apalagi bagi mujahid dakwah seperti kamu, menyerah sebelum mencoba. Ingat baik-baik, grogi, takut dan perasaan lain yang mengganggu itu wajar. Tapi jangan sekali-kali menyerah. Itulah kekalahan yang sebenarnya. ” Faris terus berusaha menguatkan Pandu. Pandu mencoba mencerna kata-kata sahabatnya itu.
”bagaimana perasaan mu sekarang?”tanya Faris lagi.
”gawat nieh ris, dari tadi aku deg-degan terus, hatiku kok gak bisa tenang ya?”
”deg-degan itu wajar. Kalau tidak kamu bisa mati!”Faris menjawab enteng. Mencoba memberi suaan santai pada Pandu. ”malah bercanda, serius nih. Aku muali gerogi lagi. “Pandu kesal.
“tenang anggap saja ini latihan biasa. Tidak ada bedanya kan? Kalau masih tidak tenang tarik nafas lagi dalam-dalam. Terus menguaplah besar-besar. Tapi jangan tidur!bener lho, ini saran dari seorang bintang film. Udah pokoknya jangan dipikirkan. Tap jalani saja. Nyantai aku yakin setelah ini kamu bakalan suka. Apalagi nanti kamu jadi terkenal hehe.”
”Husy! luruskan niat. Kita disini kan bukan cari terkenalnya. ”
”nah kamu tahu, itu dia yang bisa bikin kamu tidak rogi. Niat ikhlas karena Alloh. Jadi hilangkan atakut akan penilaian manusia , aku yakin dengan kekuatan imanmu. Sekatang ini kita bukan mencari muka dihadapan mnausia. Tapi dihadapan Alloh. Jadi mengapa harus grogi dn takut terhadap penilaian manujsia. Jadi sambil belajar menghilangkan grogi sekalian sambil belajar ikhlas. Tul kan?”
” iya, juga ya?”
”sudah sekarang masalah groginya kita lupakan terlebih dahulu. Soalnya jam testingnya sudah semakin dekat. Kamu siap kan? Are you ready, man?”
”OK!Allohu Akbar!”Pandu memekik kecil.
Pandu mulai memasuki studio siaran. Headphone sudah dipasangkan. Mix telah siap didepan wajahya beberapa lembaran teks ada ditangannya . keringat bercucuran sepertinya rasa grogi dalam dirinya belum punah semua. Dari luar Faris memberi kode acungan jempol. Lalu menunjuk bibirnya yang tersenyum. Mas dimas yang akan mengoperatori telah siap. Dua oran penyiar senior mengamatiPandu dari luar ruang siaran. ”Pandu menarik nafas dalam-dalam. Lalu menatap sobatnnya yang sedang melihatnya. Pandu tersenyum dan mulai membaca teks ditangannya.
”assalamu’alaikum jivoicer semuanya. Senang sekali Pandu bisa menemani kaliann disore hari ini...”Pandu membuk acaranya. Terkesan masih agak lamban dan kaku. Pandu agak terlalu berhati-hati.
Faris agak terlihat gelisah waktu itu. Hampir-hampir dia tidak bisa menahan diri untuk memberitahu Pandu lewat kode tangannya . tapi tatapan curiga pengui Pandu membuat Faris tidak meneruskan tindakannya. Lagipula sebenarnya tndakan itu hanya akan membuat buyar lonsentrasi Pandu pada teks. Akhirnya Faris hanya berdo’a agar Pandu segera sadar atas sedikit kekurangannya itu.
Saat Pandu membacakan teks info ditangannya, suaranya cukup bulat dan sempurna. Lebuh baik dari bagian pembukaan acara yang lamban dan kaku. Keringat dikning Pandu brcucuran walau ruangan studio itu ber AC mungkin Pandu terlaolu tegang. Hingga acara testingn itu pun berlalu. Pandu berhasil melewatinya walau dengan susah payah.
”keputsan akan diberika pada hari rabu, dua hrai dari sekarang. ”tegas pak narsa yang bertanggungjawab akan penerimaan penyiar baru. Faris dan Pandu hanya mengangguk. Alhamdulillah satu tahapan telah dilalui. Walau entah nanti apa hasilnya.
Kesempatan Seri Dua
Sudah satu minggu berlalu sejak pengumuman itu. Kehidupan Faris juga sudah normal lagi. Obsesinya untuk jadi penyiar, sementara ini dia lupakan. Tidak ada ngoceh sendiri didepan kaca. Tidak ada lagi sogokan buat Eva. (padahal, cokelat yang dijanjiin kemarin juga belum dibeliin, lagi bokek nih)
Pertempuran agak sebgit seekali terjadi., karena Eva masih tetap menagih janji Faris. Korbannya? Bantal giling terbang., kursi berjungkal, kamar gaya kapal pecah dengan posisi buku dan barang lain ancur-ancuran. Ya, paling minimal terjadi polusi suara besar-besaran diseluruh ruangan akibat teriakan Eva yang menyerang Faris. Super dahsyat, untungnya tidak sekuat lengungan poaus biru, masih tetap aman buat telinga normal. Jadi Faris adem saja. Paling-paling Ummi yang dibuat sibuk karena ulah mereak berdua. Lantas bekerja keras medamaikan mereka berdua. Kalau sudah Ummi turun tangan terpaksa Faris harus mengalah. Soalnya Faris kasihan sama Ummi. Walau bagaimanapun jika terus dilayani, perang melawan Eva tidak akan ada habisnya. Apalagi kalau sudah perang mulut. Eva emang jagonya. So, mending ngalah untuk menang kan?lagi pula waktu Faris harus diluangkan untuk persiapan SPMB. Meras otak sampai saripatinya, biar semua jawaban soal bisa nempel dikepala. Waktunya ujian sudah semakin dekat. Sekalian melupakan soal kekecewaan soal seleksi itu.
Soal curang atau tidak seleksi penyiar itu. Faris sudah tidak mau tahu. Kalaupun dipikirkan, Cuma buang-buang energi. Bikin porsi makan tambah banyak, tapi tetap tidak tinggi-tinggi. Kan Ummi yang rugi!mendingan buat mikirin soal-soal ujian. Tujuannya jelas, biar lulus perguruan tinggi negeri yang favorit. Aamin(lanjut deh, ris perjuangan nye geber abis sampe pagi!).
Malem minggu Faris masih tekun ngotak-aktik soal latihan SPMB. Lagipula suasan cukup mendukung. Hidup masih jomblo tidak ada pilihan lain. Pacaran? Tidaklah jreng!soalnya bagi para ikhwan wal akhwat yang mo berislam secara kaffah , kan harus ngerti kalau pacaran itu tidak boleh sebelum nikah. Nikah dulu baru pacaran. Itu prinsip Faris. (deu, ikhwan sejati euy!)
Mas hafid tidak dirumah,. Dia sudah tinggal landas dari rumah sejak sore tadi. Biasa malam minggu seringnya anak muda kelayapan cari calon istri. Padahal belum dicari yang ngantri sudah banyak. Tuh orang emang kerjaannya keluyuran.
Eva lagi anteng nonton acara kesukaannya. Setelah sekian lama bertelepon ria bersama konco-konconya. Gosip sana-sini sebagai agenda rutin malam minggu Eva. Untung tidak ngikut bakat kanmasnya yang paling tua keluyuran, wah bisa berabe!
Ummi lagi ngisi kajian ibu-ibu dimasjid kampung. Paling pulangnya agak malam. Sedang Abah seperti biasa sedang keluar kota tepatnya ke bandung. Katanya sih sedang mengurus penerbitan buku-buku tulisannya.
”jadi seharusnya malam ini adalah malam yang sangat kondusif untuk belajar Faris.”
Tapi sudah hampir 5 menit suara telepon berdering, dan tidak ada yang mengangkat. Eva yang berada diruang tengah yang jelas-jelas berada lebih dekat dengan telepon, tidak juga mau mengangkat telepon. Entah acara apa yang dia lihat sehingga dia terhipnotis. Panca inderanya hanya bisa ia pakai untuk menonton acara teve. Faris mulai agak jengkel. Kalau menurut hitungan film kartun, otak Faris suhunya sudah sampai 100 derajat celcius. Telinganya sudah berasap saking jengkelnya. Ditutupnya buku setebal 400 hlaman yang berisi kumpulan soal-soal itu. Dibukanya pintu kamar yang sedariu tadi dikuncinya. Kakinya segera melangkah keruang tengah. Baru tangannya akan menagangkat gagang telepon. Dering itu berhenti. Faris mangkel bukan kepalang. Dalam hitugan detik bom dikepalanya berubah menjadi ledakan dahsyat.
Evaaaaaaa....! begitu bunyi bomnya. Tapi yang diledaki bom hanya menoleh sesaat kemudian kembali cuek.
” nonton apa sih kamu?”masa dering telepon sekeras ini tidak kedengaran?!teriak Faris lagi kesal. Yang ditegur masih tetap mengalihkan pandangan pada teve. Sekilas Faris melihat cara tevenya. Mak.!film india
.”ya ampun, film gitu aja diliatin. Pake nagis lagi.!norak banget sih anak satu ini. !”komentar Faris rada pedas. Kesal campur ingin tertawa melihat Eva bercucuran air mata didepan teve.
Terang aja yang dikomentarin tidak terima. Serangan balik segera dipersiapkan. amunisi serangan dahsyat secara otomatis bermuncualn. Apalagi sang musuh sudah memasuki wilayah terlarang. Mengomentari hobi pribadi Eva. Eva sedang khusyuk menikmati alur cerita yang menurutnya menyayat hati.
Adegan raja sedang membuktikan kesungguhan cinta pada rada. Tapi rada belum juga percaya.(tahulah adegan film india yang nari sambil muter-muter pohon itu. Terus ujan-ujanan). Eva kecewa. Coba kalau Eva yang jadi rada, pasti Eva sudah menyambut ungkapan cinta raja padanya.
”mas Faris, diam dong!” ledakan Eva sengit. Matanya masih menatap teve. Masih berkaca-kaca. Ihh...lihat kayak gituan nangis.”goda Faris belum puas. Tapi komentarnya segera terbalas dengan berbagai serangan balik. Segera meninggalkan Eva yang belum selesai dengan ocehannya.
”hallo assalamu’alaikum!ya betul Faris, saya sendiri...,”ujar Faris setelah menempelkan gagang telepon ketelinga dan tidak menghiraukan Eva. Yang sidah terlihat lelah mengoceh. Mulutnya sudah berbusa-busa. Eva kembali mengalihkan perhatiannya pada teve. Tapi ia kecewa. Berkat gangguan kakaknya, ia kehilangan momen ending pada film yang ditontonnya dengan penuh penghayatan selama hampir tiga jam itu
Faris sendiri terlihat begitu serius menanggapi telepon yang diterimanya. Sesekali wajahnya berbinar cerah. Nyaris menyamai bulan purnama yang benderang diluar(hiperbol banget!).lain waktu wajahnya berkerut kusut seperti benang salah pintal dengan wajah berkerut keriput.
Eva yang sudah dibuatnya kecewa, tentu saja ingin tahu urusan kakanya itu. Siapa tahu ada proyek pungli (pungutan liar ) lagi. Apalagi dua cokelat yang dijanjikan kemarin belum terealisasikan juga. So, perlu investigasi tambahan untuk mengetahui lebih banyak rahasia kakaknya itu. Agar tekanan padanya bisa diperkuat. Jadi upeti dua batang cokelat paling mahal bisa segera ditunaikan. Kalau bisa sih ada upeti tambahan.
Selesai menerima telepon, Faris telihat mondar-mandir seperti setrikaan yang dipakai untuk menggosok pakaian. Kemudian sesekali berhenti.lalu ia memencet hidungnya yang sederhana. Lain waktu ia menggigit bibr, kemudian selanjutnya menarik telinganya. Ada juga acara mengurut-urut keningnya. Menurut cerita sih, dia lagi pusing campur bingung. Tapi entah kenapa adegan yang diceritakna seperti itu. (hehe...yanjg nulis lagi bingung milh adegan).
Sedang Eva yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh sang kakak, mulai mencium kesempatanbaik untuk melancarkan rencana tadi.
”lagi bingung ya? Hihihi!”Eva bertanya sambil menyeringai jahat. Mukanya tiba-tiba lebih mirip nenek sihir yang punya taring dua dimulutnya.
”suadah tahu nanya!” jawab Faris singkat(adegan fais diatas masih tetap berlangsung, kalau lupa baca lagi keatas!)
”ya sudah, sukurin kalau gitu!orang adiknya mau perhatian, malah dibentak!huuu..., kakak apaan kayak gitu.?bibir Eva langsung monyong lima senti.
Untung adiknya si Eva yang cantik, baik hati, sopan, santun lagi penyayang. Coba kalau yang lain?”oceh Eva lagi, ajaib. Faris segera menutup telinga.
”Hentikaaaaan!”teriaknya. Eva nyengir puas.
”iya...iya...tenaglah. jangan histeris begiu kalau dengar fakta bahwa adekmu ini punya banyak kelebihan. Yang jelas itu baru sebagian kelebihannya. Soalnya ada kelebihan adikmu yang lebih penting. Mengorek semua rahasia kakaknya. Aku tahu masalah mas Faris apa. hehe..., jangan pucat ya!kemungkinan, hutang cokelat bisa bertambah jika kerahasiaan mas Faris ingin dijamin tidak bocor pada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Atau pihak yang tidak diinginkan. Dalam hal ini kakakku yang baik boleh memilih. Bagaimana?”jelas Eva menirukan seorang detektif dikomik yang sering ia baca. Bikin Faris langsung terserang anemia.
Disekolah Faris masih terlihat bingung. Ciri-cirinya masih sama, mondar-mandir mencet hidung. Tarik telinga terus memijat keningnya.sampai-sampai seisi sekolah pada bingung dengan ulah mantan ketua rohis tahun kemarin itu.
Untung Faris punya sobat yang paling mengerti luar dan dalam(dih!emang rumah?). siapa lagi kalau bukan panu.(eh,keseleo ngetik deh ^_^, Pandu maksudnya).dia tahu gelagat Faris. Kalau sudah kayak gitu, berarti dia lagi kebingungan. jadi tanpa ragu dan sungkan Pandu segera bertanya sama Faris sambil memegang tangannya, biar tidak mondar-mandir terus.
”ris, kamu lagi bingung ya? Pengen kawin?dengan penuh simpatik, belas kasihan dan niat baik Pandu mengajukan pertanyaan pertamanya yang langsung disambut HOT oleh Faris.
” ni anak tidak boleh lihat orang bingung pasti tanya soal kawin? Ini soal lain dab!”nada suara Faris hampir sepuluh oktaf saking keselnya (wah ngalahin merauah carey, euy)yang dikeselin tetep santai. ups, jagalah hati jangan cepet marah. Jagalah hati biar bingung jangan prustasi,”senandung Pandu dengan suaranya yang masih sedehana. ( ini bahasa lain dari fales, he..he.. kalu ini penglaman asli penulis. Kacian deh lo!)
walau Faris agak tidak tega mendengarnya tapi nasehat sahabatnya itu masuk juga kehatinya. Masak sudah ngaji sekian lama, emosinya tidak bisa dijaga. Maluuukan? Emang benar, biar lagi bingung, harus ttap jaga hati. Akhirnya tanpa dimintalebih lanjut sama Pandu, Faris segera curhat..
”gini pan, kemarin pas mala miggu aku dapat telepon di radio Jivo tempat aku ngelamar jadi penyiar itu. Yang waktu itu aku tidak lulus. Ingetr kan? ” jkali ini Faris serius dan Pandu tekun mendengarkannya.
Nah, mereka mengabarkan kalau salah satu peserta seleksi yang lolos kemarin itu mengundurkan diri. Soalnya dia dilarang sama ortunya.
” trus kamu disuruh kjadi tambalnya?”
”ya begitulah,. Disatu sisi aku senang sih jadi penyiar. Tapi ada ada rasa mangkel juga. Tapi yang paling bingungin dan bikin aku harus mikir seratus kali, aku harus ikut training dulu selama dua minggu. Itu kan waktunya mepet ke SPMB. Jadi bagimana dong?bisa berabe!jelas-jelas Abah bakalan tidak setuju nih. So, aku harus cari alasan. Kesempatan ini tidak dua kali datang. Jadi aku harus gimana ni?”
”wah kalau aku sih mending langsung terima tuh...soalnya itu kan susdah cita-cita.Hmmm...tapi...SPMBnya gimana ya? Gimana dong? Pandu malah balik betanya. Faris jadi tambah bingung. Sebentar mereka diam. Mikir kali ya?
”oh...iya... Aha...!tiba-tiba Pandu berteriak. Faris ampe loncat dari tempat duduknya.
”huh, ni anak...iya sih, iya tapi jangan teriak gitu. Kaget tahu! ” Faris mengelus dada. Jantung nya yang Cuma satu terasa berdetak sepuluh kali lebih cepat dari waktu normal.
” sory fren! Gini aku punya ide, eh, bukan...semacam pendapat. ”
” gimana ?”
kemaren aku kan baca bukunyab satria hadi lubis, yang Breaking the time itu. Kata dia kalau kita mau hidup sukses kita kudu hidup sesuai visi dan misi. Nah, kamu sekarang punya visi dan misi hidup tidak?terus prioritaskan hal-hal yang bisa mendukung visi misi hidupmu. Gitchu. So, jadi penyiar kan udah jadi cita-citamu dari dulu, coba deh kamu itung untung ruginya kalu kamu menerima tawaran itu. En janganlupa satu hal, setiap pilihan harus diadasarkan atas mengharap ridho Alloh. So, kamu sholat istikhoroh dulu sebelum mutusin terima atau tolak. Aku cukup bijaksana kan sebagai seoramg sahabat?”Pandu mengahiri pembicaraan penuh dengan kebanggaan. kali ini Faris tidak bisa menolak untuk mengakui.
Akhirnya mereka mengakhiri obrolan mereka dengan pergi kekantin bi emoh. Semangkok bakso telah terbayang diotak masing-masing. Hmmm, nikmat juga.
DUNIA BARU YANG BIRU
Tepat seminggu sudah Faris dalam penantian. Sebenarnya Faris berusaha untuk tidak menanti pengumuman itu. Ia sengaja menyibukkan diri dengan banyak belajar. Lagipula SPMB sebentar lagi tiba.
Soal maematika yang penuh misteri selu saja menarik perhatiannya. Itu sih hoby. Setelah itu pelajaran bahasa Inggris yang menjadi menu favorit dalam setiap episode belajarnya. Pelajaran selebihnya, ia nikmati semampunya. Dan hal itu cukup membuat Faris tidak terlalu merasakan penantian itu.
Pagi ini adalah pengumuman hasil seleksi penyiar yang diterima di Jivo FM.Faris sudah mandi, berganti pakaian dan dan menyisir rapi rambut ikal berombaknya ( laut kali ya,...he...hehe).
Seperti biasa motor cepernya sudah siap digarasi. Bensin full, mesin OK, helm siap. Semua sudah aman dan terkendali.
Hari ini ada try out SPMB disekolahnya. Mulai jam 8 pagi. Setelah itu ada janjian acara sama Pandu. Kemungkinan sampai sore. Berarti Faris punya kesempatan melihat pengumuman itu dalam waktu setengah jam. Jam 7 sampai jam 7.30.
Faris segera melarikan motornya dengan kencang. Jalanan pagi yag selalu padat dengan kendaraan yang pergi kekantor dan kesekolah, tidak menjadikan halangan bagi Faris untuk melajukan motornya dengan kecang.
Dalam hitungan tidak lebih dari 30 menit Faris sudah sampai di Jivo FM. Ternyata bukan hanya dia yang melihat pengumuman di pagi buta. Rata-rata peserta lain pun tak sabar untuk melihat pengumuman itu lebih lama lagi. Mugkin juga karena mereka anak sekolah SMU. Hari itukan baru hari Senin. Sekolah biasa lebih cepat masuk.
Wiwied teman barunya yang ia kenal saat seleksi tahap dua sudah berdiri dekat papan pengumuman didepan bangunan studio Jivo yang mungil.
”Gimana Wied?”tanya Faris sambil menepuk bahu Wiwied yang sedang serius mengamati nomor urut peserta seleksi yan tertera dipapan pengumuman.
Wiwied yang sedang serius terperanjat agak kaget dengan kedatangan Faris yang tiba-tiba menepuknya.
”Astaga naga!” pekiknya. dia segera membalikkan badan kearah suara.”Ris, kamu sudah lihat belum pengumumannya?”tanya Wiwied seraya menatap Faris. Faris segera mnggelengkan kepala.
”Belum Wied. Coba aku lihat, tolong dong kamu geser dikit. Kamu udah lihat kan hasilnya?” Faris balik bertaya kepada Wiwied.yang ditanya tersenyum penuh arti. Faris tahu itu senyum penuh kegembiraan. Dan Faris memang tidak salah. Wiwied segera mengangguk sebagai tanda jawaban ’iya’.
”Alhamdulillah aku diterima. Aku juga tidak menyangka.kamu tahu sendiri kan saingannya bagaimana? Tapi aku yakin Ris, kamu juga pasti masuk.soalnya aku dapat soalnya aku dapat bocoran dari mas indro, dari syarat akademis kau mendapat point paling tinggi.padahal itu syarat utama selain pinter cuap-cuap.acara yang kita Pandu nanti itu kan acara science.keilmuan ris.so dibutuhksn penyiar yang tidak Cuma bisa cuap bin ember doank. Tapi lebih dari itu,cerdas kayak kamu, todong wiwid memuji.
Yang dipuji perasaannya jadi berwarna warni.bingung harus bangga atau malu. Hi hi.. abis kalau ’nuduh’ tidak kira-0kira. Kalau dibilang cerdas sih, tidak juga. Buktinya selama tiga tahun sekolah diSMU, Faris tidak pernah juara satu.walau tidak pernah pula keluar dari lima besar. Tapi kalu soal matematika dan bahasa inggris Faris emang doyan.
”ah jangan gitu wid, aku tidak sehebat yang kamu bayangkan,.aku biasa saja kok.eh ngomong-ngimng mas indro itu siapa? Kok kamu bisa kenal dia?orang dalem nih? ”selidik Faris. Matanya menatap penuh tanda tanya.
Wiwid terdiam sejenak. Sepertinya ia menangkap kecurigaan Faris.
”mas indro itu teman kakakku,. Dia juga yang memberi tahuku kalau ada seleksi penyiar pelajar di Jivo FM. Dia meang direktur produksi diradio Jivo.dia juga sering jadi operator.radio Jivo kan belumvtrlalau besar, jadi karyawannya masih sedikit. Dia cukup berpengaruh di Jivo. Tapi...emmm kamu curiga sama aku ya?aku tidak KKN kok. Yakin!dia tidask masuk tom seleksi.lagipula dia tidak suka kerja yang tidak profesional. Asal comot tanpa kemampuan. Tidak bakal ditolerir.”jelas wiwid tanpa diminta.Faris manggut-manggut.
”sekarang cepetan kamu lihat pengumumannya.aku segerra cabut. Mau ada kegiatan disekolah.cabut duluan ya!”wiwid mengingatkan sekaligus pamit. Setelah berjabat tangan, wiwid segera bergegas meninggalkan Faris yang menatapnya melaju dengan motornya.
Faris segera mengalihkan pandangan matanya pada papan pengumuman yang masih dikerubuti sekitar belasan anak SMU yang penasaran melihat hasil seleksi kemarin.
Faris mengayunkan kaki beberapa langkah.tubuhnya yang kecil mungil mewajibkannya melihat pengumuman itu lebih dekat. Setelah berhasil menerobos beberapa tubuh yang menghalanginya dari pa[an pengumuman, akhirnya Faris sampai didepan kertas pengumuman itu.
Dilihatnya satu persatu nomor yang tertera dipengumuman itu. Dari atas kebawah. Satu kali Faris belum menemukan nomor urut dirinya tertera disana. Faris masih penasaran.sekali lagi ia mengamati pengumuman itu.
Tidak ada nomor dirinya.
Mendadak Faris lemas. Wajah cerianya menguap seketika. Ada rasakecewa yang dalam, tapi harus bagaimana?dengan agak lunglai , Faris meninggalkan kerumunan yang sekarang telah menyusut mejadi beberapa orang saja. Dengan ekspresi yang bermacam-macam. Sedihgembira. Tapi ada juga yang biasa-niasa saja.
Motor Faris segera meninggalkan area pakir Jivo FM. Menuju sekolah. Waktu menunjukkan pukul 8.15. Faris tyerlambat. Tapi ia hampir tak peduli,. (kecewa ni yee...komentar semut-semut hitam yang berbaris didinding...he..he..)
Soal try out sudah dibagikan setengah jam yang lalu. Faris baru saja tiba didepan ke;las,. Ia segera mengetuk pintu. Ibu yeti yang membukakan pintu. Tak sedikitpun pemandangan manis tersisa diwajah ibu guru bahasa indonesia itu. Faris tak peduli.
Setelah sekian jam berlalu. Saatnya semua mengahiripergulatan masing-asing dengan soal latihan SPMB itu.Faris yang masih tidak konsen masih menyisakan bebrapa soal yang seharusnya ia jawab. Tapi apa boleh buat , waktu telah habis.
Anak-anak kelas 3 IPA 1 masih ribut membicarakan soal-soal yang tadi. Beberapa nak berkelompok, bergerombol mendiskusikan jawaban soal –soal itu. Faris yang biasanya bersemangat kini terdiam. Tentu itu mengundang tanya teman-temannya. Khusus nya Pandu, teman sebangkunya yang sedari tadi terpaksa menikmai wajah asem Faris dari awal jumpa.
”ris,kamu kenapa? Kesambet jin poho asem ya? Bawaannya diem aja dari tadi. Atau....kaamu lagi sakit gigi? ”Pandu bertanya Faris hany menggeleng lemah.
”mmmm....sakit?” tanya Pandu lagi.jawaban Faris masih sama.gelengan kepala.
”tapi kenapa dari tadi wajahmu layu begitu.kayak bunga kurang siram saja. Tidak biasanya!ada masalah apa, sih? ”sekali lagi Pandu bertanya.yang ditanya kali ini belum memberi jawaban. Faris masih diam.sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin memikirkan jawaban yang tepat. Pandu masih setai menuggu.
”hmmm sebenarnya sih tidak apa-apa. Maksudku, mungkin seharunya masalah ini tidak harus mengganggu pikiranku.tapi entah kenapa, ada perasaan kurang enak, dalam hatiku. Ya semacam kecewa berat. ”jelas Faris akhirnya. Tapi yang mendengar penjelasan itu masih juga belum paham maksud Faris.
”sebentar, kecewa yang mana dan masalah apa? ”cecar Pandu tidak sabaran.
”kamu tahu kan, akuikut seleksi penyiar pelajar beberapa hari yang lau? Taerus terang aku sangat berharap sekali bisa lolos. Apalagi, aku mendapat informasi bahwa hasil seleksiku cukup meyakinkan hasilya. Ceritanya aku dapat sedikit bocoran dari seorang kenalan yang sama-sama ikut seleksi penyiar. Dia kenal orang dalam, katanya hasil tesku meyakinkan. Yah...terus terang saat dengar kabar itu aku sangat optimis, akan masuk jadi penyiar. Aku sendiri yakin kok tesku memang tidak mengecewakan. Aku sudah bersiap-siap dengan segala kesungguhanku. Tapi ternyata namaku tidak tertera dipapa pengumuman itu. Terus terang kondisiku sedang tidak siap menerima kekalahan, jelas Faris, loyo. ”nah saat ini aku lagi lemes. Aku sedang brjuang untuk ikhlas dengan kenyataan ini. Kalau aku diem terus, ya namanya juga dapat kekecwaan. Aku lagi butuh tausiyah ni.”
”ya ampun nih, pak ketua kita. Apa kamu tidak ingat ris apa tujuan mua ikut seleksi penyiar itu? Just for dakwah.only for Alloh. Kalu Alloh belum menghendaki, kenapa harus dongkol bin kecewa. Inget-inget lagi tuh surat albaqoroh ayat 112: barangsiapa yang menyerahkan diri kjepda Alloh, sedang ia berbuat kebajikan , maka baginya pahala pada sisi tuhanNya. Dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Sekarang ini baru permulaan. Kamu baru memulai. Jadi ni bukan akhir dari segalanya. Kalau kamu niat banget berdakwah dibidang itu, ya kuncinya tidak ceopat menyerah. Begitu menurutku. So, jangan keburu lemes gitu. Boleh kecewa, tapi jangan lama-lama. Soalnya aku seperti liaht kamu cemberut terus. Jeleknya sepuluh kali lipat lebih jelek dari jelek sebelumnya. ...he...he...he...!ketawa dong, ris!”
”aku sedih, bukan lemes. Tapi kecewa. Soalnya, menurut feelingku ada kecurangan tertentu! Aku lihat pada prosedur pada beberapa peserta. Ada peserta yang aku tahu dia sangat tidak meyakinkan tapi malah masuk lolos jadi penyiar. Aku athu persis orangnya. KKN selalu terjadi dimana-mana. Itu yang membuatku kecewa. !
”wah, ris...!belum-belum kamu sudah suudzon. Kamu tahu darimana kalau peserta itu KKN. Sudah jangan karena kamu tidak lolos seleksi, malah bikin kamu berprasngaka buruk bukannya nambah pahala, tapi nambah dosa. Yang penting sekarang, kamu persiapkan langkah untk selanjutnya. Tidak ulus jadi epnyiar JIVO FM kan bukan kiamat buat kamu. Sekarang radio banyak dijhogja. Kamu tinggal cari kesempatan lain. Dan jangan lupa mempersiapkan diri lebih matang.”
”iya, sih” ujar Faris singkat.
Pandu masih berbusa-busa berbicara mengeluarkan petuah untuk Faris hingga mereka tiba diparkiran sekolah. Setela itu, baru mereka berpisah.pulang dengan kendaraan masuing-masing.
Dalam hati Faris bersyukur, punya teman seperti Pandu. Walu kadang rada over dosis, tausiyahnya cukup berguna. Kalupun tadi Faris sok cuek, itu sih biar Pandu idak banyak-bajnyak ngasih ceramahnya. Soalnya Faris bisa ngantuk. He..he..he..
MEMILIH BINTANG
Eva sedang dihalaman rumah, kepalanya tengadah memperhatikan jutaan bintangyang bertaburan dilangit malam.
”Eva sudah mlm,. Kemarin kamu baru masuk angin,.cepat masuk nak1”tegur Ummi lembut.yang ditegur masih asyik memperhatikan bintang.
”bentar mi,kata temen Eva dan koran-koran malam ini bulannya akan muncul dua,” ujar Eva dengan penuh keyakinan. ”Eva lagi mencari bulan yang satunya lagi mi,kok tidak ada yah?”
”Eva keheranan sendiri.”kata temen Eva bulannya sebesar bola tenis.warnanya merah.”
Ummi geleng-geleng kepala.” bukan bulan itu,tapi planet mars.warnanya merah dan kalau dilihat pakai mata telanjang memang tidak terlihat, terang Ummi.
“iya, maksudnya Eva yang itu mi. Eh mi,emang mata ada yang pake baju ya?kok ada mata telanjang segala?” entah Eva lagi iseng atau emang tulalit,. Eva bertanya pada Ummi dan Ummi cuma tersenyum.
Faris baru saja keluar dari kamar. Habis menyelesaikan soal-soal matematika SPMB membuat punggungnya pegal.tiba diluar dia langsung ikut nimbrung.” wah yang ngaku anak gaulkok kurang gaul sih?.makanya baca koran,jangan Cuma nonton tev dan denger radio.sinetron saja yng dipelototin.dengerin berita sekali-sekali dong..”Faris langsung memberi wejangan padaadeknya yang semata wayang itu. Yang diberi wejangan boro-boro terima, bibirnya langsung cemberut kerucut.
Hu... siapa yang tidak gaul?!emang mas Faris yang cerewat kayak kakek-kekek!Eva juga tahu alau itu buntang mars yang lagi deket sama bumi.’
”bukannya bintang tapi planet!’ralat Faris.
”iya..iya..tahu.sudah,sudah...t dak usah ikut-ikutan Eva.masuk lagi sana!”
”ampun deh, anak Ummi ni galak amir.makanya mi...lain kali itu Eva gak boleh dikasih makan daging dan sejenisnya. Penyakit darah tingginya kambuh. Mudah marah mi, he..he..”ejek Faris.yang diejekin sudah siap melempar dengan sandal jepit.
”Faris,sudah. Kamu juga masuk sana. Eva ayo cepat masuk, Abah sebentar lagi datang.kamu belum belajar”, Ummi mngingatkan.
”abis mas Faris sih, usil”
“siapa yang usil?orang ngasih tahu yang bener juga.tuh mi...anaknya Ummi suka ember.gosip mulu sama teman-temannya.”
“mas Farissss!teriak Eva mengejar Faris yang melarikan diri dari lemparan maut sandal jepit Eva.
Faris berlari kekamarnya tapi lupa menutup pintu. Eva tiba-tiba sudah ada didepan mata Faris lengkap dengan sandal jepit yang siap meluncur dari genggaman tangan kecil Eva.
“ampun...ampun...mas Faris nyerah deh!”Faris meringis, jangan dilempar, plis, nanti mas Faris beliin cokelat ya. Tapi jangan lempar tu sandal jepit. Kasian sandal jepitnya tar dia minder kalau dipake melempar orang ganteng kaya mas Faris hehe...”Faris mengangkat tangan.
”hu..sok ganteng!Mmm...cokelat ya?”mata Evamembesar seketika demi mendengar nama makanan favoritnya!wah, boleh juga tuh!tapi yang paling mahal ya!awas lho!ancam Eva.
”iya...iya tapi mas Faris minta satu syarat lagi sama kamu,”pinta Faris. Wajah Eva yang sudah ceria kembali cembrut.
”tidak mau!ujarnya ketus.
”ehhh... dengar dulu anak manis, jangan galak dulu. mas Faris mau nanya dikit...saja”
”tanya apa?”
”kemarin kan Eva sudah tahu kalau mas fais mau jadi penyiar radio di jivo Fm itu, nah, kemarin kamu kasih tahu ke teman mas Faris ya?”bisikFaris pada telinga Eva.Faris takut Ummi dengar rencananya itu.ini kan proyek rahasia.proyek kejutan untuk semua. Sayangnya Eva mengetahui itu semua sebelum waktunya.maklum, itu anak suka ngobrak-ngabrik kerjaan Faris.
”emang kenapa?”
”tidak apa-apa sih. Cuman lain kali jangan bilang siapasiapa dulukalau mas Faris mau ikutan seleksi itu. Kan belum tentu diterima. Nah tugas kamu yang terpenting sekarang, kamu harus jaga mulut, jangan sampai kamu bilang dulu sama Ummi atau Abah. Mas Faris nanti bisa gak boleh ikut sama Abah. Gitu...ngerti? jadi kamu pura-puranya tidak tahu saja kalau mas Faris lagi ikutan itu.OK?!”jelas Faris pada Eva.
”kalau gitu cokelatnya harus dua dong cokelat tutupmulut sama ganti lemparan sandal ini...hihihi...,”Eva nyengir. Gilian Faris yan cemberut.
”huu, cewek matre...cewek matre...kelaut aje...!”ledek Faris.
”cowok kere..cowok kere...cuekin aje...!wek...!balas Eva.
”ya sudah,pokoknya kamu janji tdak bilang siapapun.jangan ngember kayak kemarin.OK!tugas kamu sekarang do’ain mas Faris daripada ngember terus.dua hari lagi seleksi tahapselanjutnya. Kalau mas Faris keluar gak lama, itu tandanya mas Faris lagi latihan ditempat temennya mas hafid.dia juga penyiar. Nanti kan asyik punya kakak keren yang jadi penyiar.kamu bisa ikut-ikutan terkenal lho...terenal sholeh, ganteng, sabar,penyayang, baik hati, tidak sombong, tAbah,bijaksana...”
Faris terus mengoceh.sedang Eva sudah raib dari kamar itu,melarikan diri.tidak tahan dengan ocehan kakanya.aduh...tidak kuat Ummi!
Hari minggu tida seperti biasanya bagi Faris. Hari minggu ini lbih terasa pasalnya, hari ni adalah hari H seleksi calon penyiar tahapkedua.dari limapuluh pendaftar penyiar pelajar, yang terpilih untuk seleksi tahap slanjutnya hanya 20 orang.
Tak disangka tak dinyana Faris termasuk didalamnya. Padahal Faris sudah sempat down ketika sekali waktu tim uji yang seorang wanita seksi mengajaknya salaman. Tapi Faris hanya menyembahkan tangan didadanya. Wanita itu sempt kelihatan terkejut dan menatap heran pada Faris. Wajahnya langung sinis.untungnya Faris langsung memberi senyuman ramah.
Faris sempat berpikiran negatif. Ada kekhawatiran dihatinya. Wah bisa dianggap eskrim, eh ekstrimis nih.tapi....tdak apa-apa, bukannya itu satu kebenaran. Satu point dakwah buat farus. La haula wala kuwata ilabillah!begitu pikir farus waktu itu. Hasilnya?alhamdulillah tahap seleksi pertama sudah dilalui.
Sekarang tahap kedua. Setelah diwawancara sekarang saatnya menunjukkan kemampuan kepenyiaran. Bercuap-cuap didepan mix.dengan menggunakan dua bahasa. Bahasa indonesia dan bahasa inggris.
Waktu menunjukkan pukul 08.00. Faris sudah mempesiapkan motor.
”mi hari ini Faris ada acara penting dengan teman. Do’akan ya mi...sukses acaranya!”pinta Faris pada Ummi tanpa menjelaskan apa yang akan dilakukanya. Ummi hanyamengangguk. Faris mencium punggung tagan Ummi. setelah itu Ummi sibuk sendiri. Beliau juga mau pergi. Mengisi pengajian ibu-ibu dikampung sebelah.
Abah?beliau memang Belem pulang dari kemarin.
Sedang Eva, menyeringai ganjil.”jangan lupa janjinya ya!”celetuk Eva,mengingatkan pesan sponsor. Faris hanya mengangguk.
“met berjuang ris, semoga sukses”. Teriak mas hafid yang sedang mencuci bajunya dibelakang, menjawab pamitan Faris dari ruangtamu.
Faris segera menunggangi motor honda cepernya. Tancap gas dan bruuummmm...! motor itu segera melaju membawa Faris menuju studio Jivo Fm.
Kesibukan lalulintas jogja yang lebih ramai dihari minggu, tak menyurutkan tarikan moto Faris yang diatas rata-rata.jalan-jalan dijogja memang sudah Faris kuasai. Tidak lebih dari 30 menit Faris sudah sampai ditempat tujuan.
Setelah menyimpan motor diparkiran, Faris beregas menuju studio mungil, Jivo FM. Situasi sudah cukup ramai. Sebagian peserta sudah hadir disana.
Tangan Faris agak sedikit keringatan. Grogi juga nih. Tapi Faris segera menarik nafas, ups...tak biasanya ia grogi. Mungkin Faris telalu berharap banyak untuk bisa masuk menjadi penyiar. Sesuatu yang sebenarnya ia impikan sejak dulu.
Tapi ia segera mengingat jurus menghilangkan grogi yang pernah ia dapatkan dari majalah yang ia baca.biasanya sih jitu.
Faris menarik nafas, mulai menata hati. meluruskan pada niat semula. Bismillah, gumamnya pelan. ia pasrahkan semua pada Alloh.bukankah kewajiban manusia itu hanya berusaha. Sedang keputusan terbaik itu hanya ada ditangn Alloh. Faris yakin Alloh akan memberikan yang terbaik untuknya. Baik itu berupa kegagalan, ataupun kebrhasilan dalam seleksi nanti.
Berpikir positif!bisik Faris pada hatinya. Its all for dakwah, man.
Faris menarik nafas.setelah merasa cukup lega, ia segera mempersiapkan beberapa materi tes yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Hanya mengecek ulang, dari persiapan-persiapan semalem. Mantap!perasaan Faris bertambah lega.
Waktu terus berlalu, setelah pesrtamenyerahkan kaset rekaman suara mereka masing-masing,seleksi segera dimulai.
Peserta dengan urutan awal sudah masuk studio siaran.Faris sendiri mendapat nomor urut 15. Faris pun segera mencari teman mengobrol. Menunggu sambil diam, wah bisa menambah beban pikiran. Mending cari teman. Siapa tau dapat saudara seiman.
Beberapa menit kemudian Faris sudah mendapat kenalan. Seoramg siswa SMU Budi Pekerti. Namanya Wiwied. Orangnya asyik juga, cukup baik lagi.
Ahirnya suasana yang paling menegangkan itupun datang juga. Gilirannya menunjukkan kebolehan menjadi penyiar!
aHmmm...bicara didepan umum, bagi Faris itu sudah biasa. Pengalamannya memberi sambutan atau memandu kajian itu sudah makanan seari-hari.tapi...bicara sebagai penyiar radio, itu lain lagi ceritanya.
Faris pun segera meyakinkan diri, toh dia sudah berusaha mempersiapkan diri secara maksimal apalagi yang lain juga kelihatannya sama saja seprti dirinya. Coba-coba!
Faris melangkahkan kaki memasuki ruang studio yang cukup mungil itu.ruangan bercat kuning dengan AC didalamnya, trasa sangat dingin. Ada Headphone dan mix yang sudah menunggunya disana. Seorang operator menghadap kearahnya.dia memberi instruksi dari ruang sebelahyang tepisah oleh kaca bening.
Faris segera duduk dikursi penyiar. Memantapkan posisi agar suara yang keluar lebih lancar. Lalu dikenakannya headphone dan diaturnya posisi mix agar sesuai dengan posisi mulutnya.
“Sudah siap?”tanya sang operador. Faris mengangguk cepat. ”Baik, saya hitung. Satu...dua...tiga...mulai!”operator menggerakkan tangannya, tanda mempersilahkan Faris untuk bicara.
Faris segera melaksanakan perintah-perintah yang diinstruksikan sebelumnya. Tahap pertama tes, Faris diberi teks berita kecelakaan. Dia ditugasi membaca berita itu seperti penyiar radio membawakan berita. Walau ada keringat dingin merembes didahinya akibat agak grogi, Faris mampu membawakannya dengan cukup baik.
Tugas selanjutnya, Faris bertugas memandu acara untuk anak muda. Anak gaul. Disini Faris agak sedikit kikuk. Bukan apa-apa, ia harus menyebutkan beberapa grup band atau penynyi asing yang selama ini tidak ia kenal. Bahasa yang dibawakanpun harus gaul. Sesuai dengan acara anak muda. Susah payah Faris mengeluarkan semua koleksi bahasa gaulnya. Lumayan ternyata bahasa candanya dengan Eva dan kejahilannya selama ini yang kadang-kadang diprotes temannya dirohis malah bermanfaat.
Tahap selanjutnya, membacakan teks bhasa inggris. Ini point penting bagi Faris. Bahasa inggrisnya cukup bisa diandalkan.
Tes akhirnya terlewati sudah. Faris menarik nafas lega. Ia segera keluar dari ruangan sudio itu. Wiwied teman barunya tersenyum menyambut. Dia sudah selesai terlebih dahulu
Faris segera pulang. Pengumuman baru akan diketahui seminggu kemudian.
Dan waktu seminggu ini, akan menjadi saat-saat yang menegangkan bagi Faris. Duh, kuat gak ya?
Senin, 05 Maret 2012
Langkah Kecil
Sebenarnya kesempatan Faris untuk mewujudkan cita-citanya itu sudah datang padanya beberapa kali. dulu waktu kelas satu ada seleksi penyiar diradio yang cukup terkenal dijogja. tetapi waktu itu Faris belum berani ikut. lagi pula dia kan baru ikutan rohis disekolah. sedang yang ikutan seleksi penyiar radio? jangan tanya deh...anak-anak kaya mana yang ikutan. bukan Faris alergi sama anak-anak yang ngaku-ngaku paling gaul itu. cma rasanya Faris belum tepat gabung sama mereka. Faris ingin tahun pertama sekolahnya ia mendapat teman yang bisa membawa kebaikan. tentu saja dirohis pling tepat. (deu...yang promosi!)
dikelas dua malah banyak lagi kesempatan itu. beberapa radio dijogja sengaj a cari penyiar-penyiar muda dari SMU-SMU. tahun 2002 dijogja kan booming kemunculan radio baru. seperti jamur dimusim penghujan. mereka bersaing untuk merebut hati pendengarnya yang para ABG itu. tapi waktu itu Faris juga lagi sibuk dirohis. kelas dua kan dia menjabat sebagai ketua rohis. pernah sih coba-coba ikut seleksi. tapi karena amanah yang lebih pentingdirohis ahirnya Faris gagal mengikuti beberapa tahap seleksi.
belum lagi grup nasyidnya yang emang memerlukan banyak perhatian darinya. tanpa latihan dan manajemen yang baik, grup nasyid seringnya cepet bubar. asli, terlalu sibuk kalau ditambah kegiatan yang lain.
tapi dikelas tiga akhir, ternyata waktunya cukup luang. segala jabatan sudah ia lepas. tim nasyidnya juga sudah regenerasi. ebtanas sudah selesai. tinggal ujian masuk peruruan tinggi negeri saja yang Faris tunggu. belajar juga tidak terlalubanyak. Faris sudah siap-siap menghadapi itu sejak awal masuk kelas tiga. jadi Faris merasa baik-baik saja. dan tidak terlalu bermasalah. percaya diri nih ceritanya.
lalu kesempatan emas itu datang. ada radio baru dijogja yang lagi seleksi penyiar. radio anak muda.
“wah, bisa pas nih dengan misiku, batin Faris.
jadi apa salah nya jika ia mau mencoba mewujudkan cita-citanya yang sudah dua tahun tertunda itu? apalagi setelah diskusi sama mas Hafid dia sangat mendukung.
tapi halangan dilangkah awal itu selalu ada. baru saja Faris mendaftar mau ikutan seleksi jadi penyiar, gelombang protes sudah banjir. terutama dari teman-temannya yang sesama anak rohis. entah siapa yang telah membocorkan rencana rahasia Faris ini. dia tahu, kalau dia secara terang-terangan menampakkan diri ikut dalam seleksi penyiar radio, demonstrasi besar-besaran anak rohis bakal terjadi. makanya Faris sembunyi-sembunyi. diam-diam saja.
tiba-tiba gerombolan anak rohis mendatanginya disuatu pagi yang cerah, didepan mushalla saat Faris bareng Pandu, temannya dikels dan rohis baru saja selesai sholat dhuha.
“ris, tuh lihat pasukanmu menuju kemari. ada acara apa?” tanya Pandu heran. segerombolan akhwat rohis al-karim, rohis sekolahnya Faris di SMu bakti, datang menuju musholla.
“tidak tahu tuh! tapi kayaknya menuju kemari. ada apa ya?” Faris balik tanya. yang ditanya menggeleng keras.
“yee...mana aku tahu. kamu saja yang ketua gank Al-karim tidak tahu. apalagi aku,” protes Pandu.
Faris nyengir.”iya ya, lupa aku!eh mereka sudah dekat tuh. Tapi kayaknya mereka mau ketemu aku deh. Bukan ge er sih, he he!”
“ huh sok dicari kamu. Sok seleb,. Awas hati-hati, kamu mulai main api sama akhwat. Kebakaran jenggot tahu rasa kamu! Jaga hati, jaga mata. Kena jebakan setan tahu rasa!”Pandu mengingatkan.
Iya pak ustadz.makasih tausiyahnya. Aku kan cuma bercanda. Tapi...eh, lihat! mereka benar-benar kearah kita kok. “
sebelum Pandu dan Faris bereaksi lebuh lanjut. akhwat-akhwat itu sudah mengucap salam. Pandu dan Faris segera menjawab dengan serempak.
“wa’alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh!”
setelah situasi cukup nyaman untuk berbincang salah seorang dari akhwat itu membuka pembicaraan
“afwan ris ...ana mau tabayun sama antum. Kemarin ana dengar kabar kalau antum mau ikut seleksi penyiar radio jivo itu yah?”tembak rina, tanpa ampun. Matanya agak besar tajam menatap Faris galak!Pandu bengong.
Mbak menatapnya jangan lama-lama, gozul bashor dong. Lama-lama ditatap kan bisa menimbulkan ge er, batin Faris.(dih ini anak, diseriusin masih juga bercanda).
“Kamu tahu dari mana rin?”jawab Faris. Wajah imutnya masih menyisakan cengiran jahil.
“yang nagsih tahu itu tidak penting. Yang penting sekarang, benar tidak berita itu. Ini menyangkut kredibilitas rohis Alkarim dihadapan adik-adik kelas kita nanti. Terutama yang baru tertarik dengan rohis.”jawab wulan, Rina, lina, dian, dan nia mengangguk mengiakan.
“wah ris, kamu jadi penyiar. Kok tidak bilang-bilang aku. Siapa tahu aku bisa ikut, “celetuk Pandu sok kaget. Akhwat-akhwat itu tambah melotot. Pandu jadi mengkerut syeremm booo!
“ ris, antum itu mantan ketua rohis, masa mau jadi penyiar radio gaul kayak gitu. Nanti bagaimana kalau kamu disuruh mandu acara yang tidak syar’i. Apalagi nanti lagu yang diputar juga bukan nasyid,” protes wulan.
Iya ris, bagaimana nanti citra rohis dimata adik-adik kita. Alumni rohis alkarim kerjaannya jadi penyiar radio yang jelas-jelas tidak syar’i. Mantan ketuanya lagi!” timpal lina.
“sebentar-sebentar ibu-ibu, jangan terbawa emosi gitu dong. Sabar...tenang...tenang...!tarik nafas, lalu mari kita dengarkan penjelasan dari saya, OK?!” pinta Faris masih dengan santai dan bercanda, yang diajak bercanda dingin-dingin saja. sebel kali! Faris tidak mau serius.
“ris, ini masalah serius. Jangan bercanda dulu. Bungkus tuh bercandanya disaku celanamu!”ujar nia dengan muka serius. Tapi yang lain malah pada ketawa. Lha iya, muka Nia boleh serius. Tapi kalimat yang keluar bikin orang pengen ketawa. Nia dicubit Lina. Nia segera diam campur bingung.
“ begini teman-teman, saudar-saudaraku, terus terang sebalum ini aku memang merahasiakan rencana itu. Mohon maaf sebelumnya. Lagian buat apa aku kasih tahu ke orang-orang kalau aku ikut seleksi jadi penyiar radio. Iya kalau diterima, kalu tidak?bisa malu kan. Itu pertama. Bukan bermaksud menutup-nutupi kok.
Yang kedua, setelah aku lihat dari acara yang ditawarkan aku melihat acaranya cukup bermanfaat untuk kita semua. Acaranya khusus untuk anak-anak SMU seusia kita. Bahasanya juga seputar pelajaran pengetahuan umum. Jadi aku pikir mengapa tidak?kalau aku bisa jadi penyiar, aku kan bisa sekalian promosi kegiatan rohis kita. Terus, siapa tahu aku bisa mengurangi cap eksklusif rohis kita ini dari pandangan teman-teman diluar kita. Kita bisa tunjukkan ke mereka-mereka, yang menganggap kita tidak gaul bahwa :’kita juga bisa gaul” jadi penyiar asyik saja, Ok!’kan bisa lumayan tuh. Begitu maksudku. Gimana bisa diterima,?”Faris melihat wajah teman-temannya satu-satu.
Serius ni yee mikirnya. Batin Faris. Kening mereka berkerut semua. Cuma nia yang kelihatan tak acuh. Kalau dia mungkin kapok, soalnya pembicaraan dia yang sudah sebegitu seriusnya masih dianggap lelucon juga.
“ tapi ris, bagaimana dengan lagu-lagu yang tidak islami itu?”tanya wulan.
“aku juga belum tahu persis. Acara itu. Bentuknya kayak apa. Aku baru ikut tahap seleksi pertama. Tapi kalaupun harus terpaksa ada, kan tidak lebih banyak dari acara yang bermanfaatnya. Nanti kalau aku sudah jadi penyiarnya, siapa tahu bisa memasukkan lagu-lagu nasyid. Biar kayak dimalaysia nasyid dan lagu pop disana sudah sejajar. Jadi dimanapun dan kapanpun acaranya nasyid boleh diper dengarkan, aku kan baru mencari celah dakwah. insyaAlloh. Jadi belum banyak plihan. Begitu!”
“ tapi pilihan dakwahmu sangat beresiko Ris, “ungkap rina.
“lho kalau kita selalu takut dengan resiko, kapan kita akan mulai sebuah perluasan dakwah. kalau kita hnaya berkutat didaerah aman mana bisa kita mengajak saudara yang kita sering menganggapnya sangat jauh dari islam itu untuk mengenal islam. Memang resikonya berat. tapi resiko itu harus coba kita hadapi.
Nah disitulah aku perlu dukungan saudara-saudaraku yang sudah banyak paham tentang islam. Untuk tetap menyeimbangkan lingkunganku. agar aku tetap terjaga dari khilaf, lupa, fitnah. saling jagalah, bagiamana?”Faris terlihat lega, sudah menjelaskan semuanya.
“ya, kalau memang niat antum begitu, syukur. Kami juga berusaha mendukung semampunya. Tapi tetap waspada. Karena seringkali niat lurus hati kita berbelok ditengah jalan. Itu berbahaya,”ingat rina. Yang lain mengamini. Pandu yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia pun manggut-manggut. Entah ngantuk entah bingung.
“eh, ngomong-ngomong, tahu dari siapa aku ikut seleksi jadi penyiar Jivo?”Faris menyelidik kembali masalah yang tadi hampir terlupakan.
“aku tahu dari adekmu. Eva kan sering main sama adikku Nio, jadi dia juga agak dekat sama aku.” Nia mengaku.”dia sering cerita tentang keluargamu kok. Mulanya aku tidajk tahu kalau Eva itu adek mu eh, tapi itu bener adekmu?wah kenapa bisa amburadul begitu yah?”tanya nia polos. Yang lain mengulum senyum
Faris terlihat agak malu. walaupun aga jahil bin usil Faris kan ikhwan tulen. Makanya agak malu kalau mengingat Eva adik kandungnya itu. Selama ini dia jadi aktivis rohis.sibuk dakwah diskolah. Mengajak teman-teman untuk mengenal islam, eh adek malah belum dekat dengan islam. dipikir-pikir Faris kaya Abah juga. tapi Faris sudah bertekad kok, Faris akan terus memperhatikan adik semata wayangnya yang baru beranjak menemui dunia remajanya itu. tentu, suatu saat Eva juga harus lebih mengenal islam. Jangan sampai kejadian deh, bapaknya ustadz anaknya preman. Tidak itu tidak boleh terjadi.!
“oya,…Faris malah bengong!” nia menegur Faris yang sedang asyik memikirkan adeknya yang nyentrik itu.
“o…Eva?emang dia itu agak bandel. Tau nih ketuaran siapa?”
“ketularan siapa ya? Ya ketularan kakaknya paling. Eva sering bilang, mas Faris sukanya Cuma nasehatin. tapi mas dimintain tolong mas Faris pasti lagi sibuk. Tidak mau diganggu. Ultah Eva aja lupa.’ Nah lho, gimana tuh adikmu ris?”jelas nia.
”ya sudah kita tukeran adek saja. aku jadi kakak nio, kamu jadi kakak Eva.”usul Faris setengah bercanda,.”tapi sebenarnya aku juga resah melihat Eva. Sejak masuk SLTP agak sulit diatur. Ya sudah aku minta tolong kamu deketin dia ya!”pinta Faris pada nia. siapa tau dengan pendekatan kakak yang sama-sama perempuan Eva bisa nyambung, moga saja.
”insyaAlloh”angguk nia.
”malah jadi membicrakan masalah keluarga.semua kan sudah jels.mari kita bubar” usul rina. lalu mereka segera bubar dari musholla.
Everything About Faris
Sudah lama sebenarnya Faris ingin berbicara pada Abah soal kesibukannya. Tapi sepertinya Abah sama sekali belum punya waktu sengggang. Apalagi akhir-akhir ini Abah sibuk bolak-balik Yogya-Bandung untuk mengurusi penerbitan buku hasil karya tulisnya.
Ceritanya sekarang Faris mau demo sama Abah. Menurut Faris, Abah itu terlalu sibuk. Setiap hari kerjaanya berkeliling kemana-mana (emang ngeronda terus, ya?). Sedang keluarga, hanya nomor dua!(nomor satu kan emang Alloh...,tul kan?)
“Abah berharap anak-anak Abah bisa memahami Abah sebagai seorang ustadz. Abah harus memperhatikan ummat. Melayani mereka. Jadi perhatian Abah harus terbagi-bagi. antara ummat dan keluarga.“ Begitu alasan Abah ketika suatu hari Faris ada kesempatan untukl protes. Sebenarnya protes itu bukan yang pertama kali Mas Hafidz juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi ya begitulah, Abah tetap sibuk dengan kegiatan dakwahnya diluar.
Faris bukan tidak setuju dengan kegiatan dakwah Abah. Cuma Faris merasa Abah itu kurang memperhatikan anak-ankanya.
Ya, Abah itu jarang memnperhattikan anak-anaknya, tapi giliran Abah dapat kabar buruk tentang ank-anaknya, pasti Abah langsiung marah-marah. Kadang Faris sambel banget, eh bukan, maksudnya sebel banget. Kayaknya Abah kurang adil. Pengen terima baiknya saja. Padahal beliau sendiri jarang ada dirumah. Kadang-kadang tidak tahu mkasalah asal marah.
Heh bingung! Tapi ya gimana lagi? Abah memang sangat sibuk. Ceramah, ngurus organisasi, nulis buku, ngurusin penerbitannya.macem-macem kerjaannnya dan tidak ada habis-habisnya.
Kadang Faris kasihan juga sih. Abah tidak pernah punya waktu istirahat. Tidak hari libur atau hari biasa, pasti Abah punya acara. Jadi harus gimana donk?
Kalau Ummi?
Untunglah Ummi Faris adalah ibu yang baik sedunia. Ummi jarang sekali marah sama anak-anaknya. Orangnya sabar sekali. Faris lebih dekat sama Ummi dari pada sama Abah. Beliau itu seorang guru di SMU Islam Abu Bakar. Terkadang Ummi juga sangat sibuk. Ngisi ceramah juga. Terutama kalau pengajian ibu-ibu. Kadang juga diajak Abah untuk menemaninya ke Bandung. Soalnya di Bandung Abah punya rumah kontrakan. Tapi itu juga jarang banget. Pokoknya Ummi tak sesibuk Abah. Lagi pula sesibuk apapun Ummi, beliau tetap selalu perhatian sama anak-anak. Sesulit apapun kalau masih bisa pulang, Ummi selalu pulang kerumah. Kelemahannya, Ummi itu tidak tegaan. Setiap kemauan anaknya, jarang sekali ditolaknya, Ummi terlalu serba membolehkan. Memanjakan, istilah Abah. Tapi untunglah Faris punya Ummi yang teramat baik.
Mungkin karena kombinasi sifat Abah dan Ummi yang agak berlainan itulah anak-anaknya tumbuh jadi anak-anak yang unik.
Mas Hafid, dari kecil cenderung usil dan agak jail. Dia itu anaknya cukup gaul, suka seni lukis dan gambar dan punya kebiasaan nyentrik, maunya beda sama orang lain. Kakaknya Faris yang ini suka bikin yang unik-unik. Ngerjain orang juga salah satu hobinya. Pokoknya sering bikin yang aneh-aneh deh! Tapi dia jadinya kreatif. Sampai dia berkesimpulan untuk memutuskan kuliah di jurusan advertising. Dan kayaknya dia asyik betul disana.
Sebenarnya Abah tidak setuju dengan hal itu. Tapi Mas Hafid jalan terus tuh. Maunya Abah, Mas Hafid jadi insinyuuuuuur dakwah. Tapi Mas Hafid milih jadi ustad periklanan. Hi hi hi...
“Suatu saat dakwah juga perlu diiklankan, biar laku didenger, bah,” jelasnya pada Abah. Nah lho?
Hmm..kalau Faris sendiri, kata orang sih suaranya bagus. Buktinya dia pernah juara MTQ tingkat provinsi. Urutannya? Rahasia dong!! Kalau bernyanyi, suara merdu. Kalau ngomong suaranya asyik,(Tidak sombing nieh, Cuma pamer! Hus sama saja, tidak boleh atuh!)
Diantara anak-anak Abah, kata orang juga sih, Faris adalah anak paling soleh. (weks...!!!!!) Sebenarnya ada sinyal ( mang Hp?), bahwa Abah berharap Faris mau meneruskan karier Abah. Tapi...Faris sudah punya cita-cita sendiri.
Lain lagi dengan sibungsu Eva. Adik nFaris semata wayang itu emang agak tomboy campur bandel. Abis maennya sama anak laki-laki mulu(ye...emang gaul ama anak laki-laki jadi bikin bandel?). termasuk kedua kakaknya tercinta Faris dan mas hafid. Plus gank sekolahannya yang super unik. Maman, nio, yana dan nanik yang anak gaul abis. Mainan yang dia punya juga warisan semua dari Faris dan mas hafid.mobil-mobilan, robot kecil, komik detektif dll.
Tetapi kebiasaan paling buruk yang dia miliki adalah hobi bangety nonton teve dan debgerin radio. Apalagi kalau acara bola atau nacara heboh-heboh ala remaja sekarang. Walah bisa gawat dunia. Lupa makan, lupa tidur!biasanya, jadilah Ummi yang paling cemas. Abah yang paling marah, mas hafid yang paling cuek dan Faris yang paling sibuk nasehatin.
Eava sendiri?tetep anteng. Bagi Eva, nonton teve is the best. Wah, gawat...gawat....gawat...!
Itu yang paling Faris khawatirkan. Tahu sendiri mkan?acara-acara diteve dan diradio sekarang tidak ada yang sehat. Adanya banyak yang sesat.tapi kalu meelarang si Eva tidak nonton teve atau dengerin radio, sama saja menyuruh batu lari(ih mana batu bisa lari?yang nyuruh aja yang nggak ada kerjaan kali ya..he..he..). maksudnya hampir tidak mungkin. Asli Eva sudah kena penyakit hobi nonton,akut. Ha? Salah asuhan kali ya?hmmmm...apa salah yang mengasuh?tidak tahu!
Ummi sudah sering mengingatkan dengan berbagai cara yang halus. Abah sudah sering marah-marah sama dia. Tapi dia tetep cuek bebek!(untung saja tidak jadi bebek beneran, baru nyaho dia!)
“ nanti kalau ketinggalan info dari teman-teman kan gak enak, tidak gaul! Emang enak jadi orang yang dikacangin. Kacang kan mahal mas,”tangkis Eva kalau Faris mengingatkan.
Emang sih, Faris juga mersa lingkungannya menuntut hal semacam itu,. Kalau sese0oreang tidak ikut mode, tidak up to date dianggap tidak gaul.ketinggalan jaman.katanya kayak tarzan pindah kekota saja.
Suasah...susah. jadi remaja jaman sekarang emang susah. Harus waspada. Dimana-mana dikepung “aliran sesat yang menyesatkan”teve, radio, majalah, semua bikin jauh dari islam.
Pernah suatau hari Eva bikin ulah. Bikin Abah marah besar.ceritanya, suatu hari ada acara yang sangat digandrungi Eva. Dan acara itu sampai larut malam.malah sampai hampir pagi. Kebetulan waktu itu Abah keluar kota.eh itu si Eva bandel ma;ah nekat nonton sampai acara habis. Pas acara lagi seru-serunya Abah datang tak terduga. Maka terjadilah satu kemarahan besar.Abah membikot teve asampai seminggu.tentu saja seluruh keluarga kebagian getahnya. Herannya tuh anak tidk pernah kapk. Hobi nonton tetep tidak berkurang.
Pusiiiiiiiing! Pusiiiiiiiing!
Yang jelas karena keadaan adeknya itulah, Faris merasa perlu menjadi orang yang kompeten dibidang media massa. Televisi,radio atau apa saja yang sekarang digandrungi oleh remaja.
Kasihan kalu lihat mereka.teve, dan radio, isinya racun semua buat mereka. Cita-cita Faris sekarang, ingin mengubah isi televisi atau radio menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk islam. Bukan menjadi perusak generasi islam.
Emang sih, Faris juga seneng nonton teve. Bahkan sebenarnya pernah lebih parah dari Eva. Soalnya dari kecil Faris ingin seperti pembawa acara yang sering nongol di diteve itu.kayaknya kerjaannya seru.mengandalkan suara merdu. Faris kan punya suara merdu juga.(he...pede nih ceritanya!).pernah juga ingin jadi penyanyi dan bintang film.(wah, asyik kali ya,terkenal?). tapi setelah tahu kalau banyak hal yang ada ditelevisi itu ternyata menyimpang, Faris malah jadi ngeri juga. Tapi menurut mas hafid sikap muslim tidak bisa Cuma ngeri dan takut.
“kalau kamu punya cita-cita kecemplung (emang masuk got?) didunia pertelevisisan,peradioan, itu bagus. Justru orang-orang sholeh diperlukan didunia hiburan kayak teve sama radio. Soalnya kalau teve dan radio Cuma diisi sama orang yang otaknya kotor, ya bawaannya nayangin acara-acara kotor melulu. Gitu ris!jangan sampai yang soleh-soleh kerjaannya Cuma dakwah didaerah aman. Masjid, mushola, kampus. Ditempat kayak gitu, yang datang kan Cuma orang baik-baik juga. Sekali-kali da’i itu hgarus melanglang buana kedunia yang berbahaya. Kalau di bisa menyebarkan kebaikan didunia berbahaya kaya teve dan radio yang sekarang, itu baru da’i hebat. Kaya aa gym tuh!” begitiu terang mas hafid sama Faris. Bikin hidung dia kembang kempis. Merasa cita-citanya didukung mas hafid.
Memang sih biarpun mas hafid itu funky abis, dia tetep syar’i kok. (kayak motto siapa hayo?he he he.) beda dengan adeknya si Eva. Funky se-funky funky-nya. Mungkin karena dia masih bener bener ABG. Belum tahu banyak asam garam kehidupan kali ya?tapi karena Eva juga, Faris jadi lebih semangat mengejar cita-citanya. Walau ada kemungkinan tidak disetujui Abah. Seperti mas hafid. Tapi jangan disebut Faris kalau dia mudah jmenyerah.
Tidak la yauw! Tak...u...u...
Langganan:
Postingan (Atom)